9 Kata yang Sering Kita Tulis di bulan Ramadan Dengan Cara yang Tidak Sesuai KBBI

by - April 15, 2018



Bisa jadi efek nonton wawancara Ivan Lanin di Mojok, saya kok ya jadi tertarik untuk lebih memperhatikan penulisan bahasa Indonesia yang baik dan benar sesuai KBBI. Padahal bener loh, ini bukan karena Ivan Lanin itu tampan menurut redaksi Mojok. Karena kalau menurut saya sih yang paling tampan itu tetap suami saya (sambil kedip-kedip minta dibelikan Tesamoko, Tesaurus Bahasa Indonesia-nya Eko Endarmoko seharga Rp 225.000,- saja).

Tidak terasa bulan Ramadan tinggal sekitar 4 minggu lagi. Biasanya tulisan bernuansa islami akan kembali membanjiri jagad sosial media. Nah, daripada kita menambah dosa dengan membuat Ivan Lanin meriang membaca tulisan kita yang tidak sejalan dengan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), ada baiknya kita mulai buka-buka laman kamus ini. 


Kenapa kita harus menuliskan sesuai KBBI? 

Kan bahasa Arabnya tidak seperti itu? 
Itu kan tandanya panjang, jadi harus ditulis hurufnya dobel. 
Ini kan pakai huruf dho, bukan dal, artinya bisa beda. 

Dan masih banyak lagi yang mengundang perdebatan panjang. Semoga tidak sampai saling mengkafirkan ya.

Ketika kita menulis sesuatu dalam bahasa Indonesia, maka kita perlu menggunakan kaidah bahasa Indonesia yang baik dan benar. Kalau dalam pengucapan, silakan saja mengucapkannya sefasih mungkin sesuai bahasa aslinya. 

Penulisan dalam KBBI, itu sudah dituliskan juga apa artinya. Jadi walau penulisannya tidak sesuai dengan pengucapan bahasa atau huruf Arabnya, artinya sama.

Sudah siap terkaget-kaget dengan penulisan kata-kata berikut? Pasang sabut pengaman, kita akan mulai menjelajah beberapa kata-kata yang telah saya kumpulkan dari link KBBI Daring.


9 Kata yang Sering Salah Penulisannya

#1 Ramadan bukan Ramadhan

Saya terus terang tahu soal ini sejak buku ontologi pertama kami - Ramadan Undercover, diterbitkan Gramedia Pustaka Utama tahun 2014. Sempat berburuk sangka, kalau pihak penerbit tidak teliti. Ternyata setelah buka Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), baru tahu kalau yang benar itu memang Ramadan untuk menunjukkan bulan ke-9 tahun Hijriah dimana seluruh muslim yang telah akil balig wajib melaksanakan ibadah puasa. Jadi bukan Ramadhan. 


#2 Salat bukan Sholat, Shalat, atau Solat

Aneh ya? Tapi ya begitulah aturannya. Salat itu merupakan ungkapan agama Islam yang merujuk pada rukun Islam ke-2, sebuah kegiatan yang dimulai dengan takbir dan diakhiri dengan salam.

Sekaligus kita bahas turunannya juga ya. Ada Salat lima waktu, salat wajib. Tapi tidak ditemukan kata salat fardu. 

Ada juga salat Subuh, salat Zuhur, salat Asar, salat Magrib, salat Isya, salat Duha, salat Tarawih, salat Witir, salat Idulfitri. Perhatikan kalau penulisan kata majemuk seperti ini, kata salat menggunakan huruf kecil. Bukan huruf kapital.


#3 Saum (Puasa) bukan Sahum

Tidak perlu berdebat apakah kita harus menggunakan kata saum atau puasa untuk merujuk pada salah satu rukun Islam yang menunjukkan kegiatan menahan diri dan berpantang makan dan minum dari terbit fajar hingga terbenam matahari. 
Silakan menggunakan kata saum atau puasa. Artinya sama saja menurut KBBI. Saum sudah diserap sebagai kata kerja yang berasal dari bahasa Arab.


#4 Fardu bukan Fardhu

Untuk menunjukkan sesuatu yang wajib dilakukan digunakan kata Fardu. Ada fardu ain, fardu kifayah, puasa fardu. Tapi memang aneh, tidak ada entri untuk kata salat fardu. 


#5 Alquran (Quran) bukan Al-Quran atau Kuran



#6 Kakbah bukan Ka’bah atau Kaabah

Aneh? Udah lah iya-iya aja. Nggak usah protes. 


#8 Idulfitri bukan Idul Fitri 

Inga-inga ya kalau buat kartu ucapan lebaran. Idulfitri itu disambung, untuk menunjukkan hari raya umat Islam yang jatuh pada tanggal 1 Syawal. Kita bisa menuliskan hari Raya Idulfitri, salat Idulfitri.


#9 Insyaallah bukan Insya Allah atau Insyaa Allah

Jadi penulisannya memang disambung untuk menunjukkan makna Jika Allah Mengizinkan. 


Main-main dengan app Word Cloud

Ungkapan bahasa Arab

Bagaimana dengan bahasa Arab yang dituliskan dengan dalam bahasa Indonesia? Kalau yang seperti ini tidak ada dalam KBBI. Saya kira silakan menuliskannya sesuai keyakinan masing-masing. Berikut saya berikan beberapa contohnya. Sekalian kita hapalkan artinya yang sering dilupakan.

Ungkapan Istigfar (bukan Istighfar ya): Astagfirullah hal adzim (Aku mohon ampun kepada Allah yang maha agung).

Wallahu a’lam bishawab (Dan Allah lebih mengetahui yang sebenar-benarnya).

Taqabbalallahu minna wa minkum (Semoga Allah menerima - puasa dan amal - dari kami dan - puasa dan amal - dari kalian).

Atau bisa juga:
Taqabbalallahu minna wa minka (Semoga Allah menerima - puasa dan amal - dari kami dan - puasa dan amal - darimu).

Atau ada juga yang versi panjang:
Taqabbalallahu minna wa minkum shiyamana wa shiyamakum wa ja’alna minal aidin wal faizin.
Semoga Allah menerima (puasa dan amal) dari kami dan (puasa dan amal) dari kalian. Dan semoga Allah menjadikan kami dan kamu termasuk orang-orang yang kembali (dari perjuangan Ramadan) sebagai orang yang menang.

Jadi Minal aidin wal faizin artinya adalah termasuk orang-orang yang kembali sebagai orang yang menang. Bukan mohon maaf lahir batin.

Bagaimana teman-teman? Semoga tulisan ini bisa membantu teman-teman bisa menulis dengan lebih baik dalam bahasa Indonesia dan membuat seorang Ivan Lanin bisa tidur dengan tenang di malam hari. 

Selamat mempersiapkan tulisan menghadapi bulan Ramadan 1439 H.




You May Also Like

2 comments

  1. Bunda apresiasi Teh Shanti telah menulisksnnya.
    Maka kita harus melihat bagaimana percetakan sebesar Mizan menuluskannya.

    Mungkin sepakat cara menuliskan InshaAllah disambung. Namun demi memuliakan keagungan Allah, Bunda ndak berani huruf a untu Allah dg huruf kecil . . .

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bener sih Bun, bagaimanapun berbahasa menyangkut rasa juga. Rasanya lebih enak menulisnya dengan dipisah dengan A-huruf besar. Atau paling mengganti kata itu cukup dengan bahasa Indonesia saja.

      Delete