Perlukah kita mengkritisi karya orang lain?

Sabtu, Januari 13, 2018


Coba siapa kemarin yang ikutan ngakak guling-guling baca reviewnya Teppy tentang Film Ayat-Ayat Cinta 2? Atau ada nggak yang dulu ikutan ngebully review Dudun Parwanto mengenai film Warkop DKI Reborn yang bilang kalau film itu tidak cocok untuk anak-anak? Persamaan dari kedua review ini adalah mereka memberikan kritik negatif terhadap karya orang lain dan mendapatkan tanggapan pro kontra dari para pembacanya.

Saya sendiri pernah menulis sebuah review tentang Novel Milea-nya Pidi Baiq. Jujur itu review negatif, walau dengan susah payah saya bungkus dengan 'manis'. Kalau penasaran, reviewnya bisa dibaca di websitenya Mizan Publishing [Blogger Review] Ulasan Novel Milea Suara dari Dilan karya Pidi Baiq.

Sejak ditayangkan pada September 2016 di www.shantystory.com, tulisan itu sudah mendapat view hampir 70 ribu (berdasarkan statistik wordpress). Di tulisan tersebut ada yang menyampaikan komentar seperti ini:

Bagi saya yang anda lakukan bukan mereview tapi lebih banyak kritikan. Sebagai sesama penulis tentunya anda tidak boleh membandingkan gaya penulisan. Mereka hidup, mereka punya pembeda, mereka berkarakter karena itu mereka ada di setiap imajinasi kita saat membaca.

Mohon agar lebih berhati-hati dalam mereview, sayangnya banyak yang ingin saya kritik dalam review anda ini. Dengan cara meminjam buku lalu mereview saja bagi saya itu saja sudah tidak sopan. Jadilah pembaca yang menghargai hasil karya penulis dengan membeli karyanya.

Salam hangat,
Manusia biasa



Sebuah komentar yang patut kita cermati. Ternyata ada orang yang tidak nyaman dengan komentar negatif. Walau sebenarnya yang di komen malah menayangkan komentar tersebut di website mereka.

Dari sini kita bisa melihat bagaimana setiap orang berbeda-beda menyikapi sebuah kritikan. Positif dan negatif sebuah komentar menjadi sangat relatif.

Sejujurnya saya sendiri memandang review Teppy terhadap AAC 2 atau review Dudung terhadap Warkop DKI datar saja. Saya tidak memandang itu negatif atau positif. Itu adalah pandangan subjektif seseorang terhadap sebuah film apa adanya. Tidak berarti mewakili opini sekelompok orang, apalagi menggalang opini publik. Dan saya sendiri menganggapnya sah-sah saja.

Itu karena bukan karyamu yang dikritik!

Bisa jadi juga. Kalau karya yang saya buat dengan darah dan air mata plus menggunakan harta karun segenggam berlian, tiba-tiba dihina-dina orang sedemikan rupa, apa ya nggak nangis? Kemungkinan besar memang bakal nangis di pojokan sih. Apalagi kalau SEMUA orang menyampaikan hal yang sama.

Kenyataannya, jarang sekali ada karya yang mutlak jelek atau mutlak bagus. Film box office atau buku bestseller saja selalu ada saja yang menghina-dina dengan tanpa hati. Mending oleh orang yang kompeten, ini oleh orang yang nulis komen saja banyak typo dan nggak bisa mengungkapkannya dengan baik. Nggak level banget lah, dengan sang pembuat karya. Tapi tetap saja itu tanggapan pribadi yang tidak bisa disalahkan juga.

Seperti ada yang ngatain novel Alchemistnya Paulo Coelho yang bestseller di 74 negara sebagai novel yang jelek pakai banget dan lebih pas disebut sebagai buku pengembangan diri daripada novel.

Sebenarnya selama komentar like lebih banyak daripada komentar dislike, itu masih wajarlah. Apalagi yang menyangkut selera. Seperti saya paling nggak bisa dengar Jazz atau Dangdut. Nggak masuk ke telinga. Pokoknya kalau musik harus Pop. Yang nggak Pop itu nggak OK, kata saya.

Tapi bolehkah saya menghina-dina atau memberi komentar negatif terhadap musik Jazz atau Dangdut? Atau mungkin pertanyaannya, kenapa juga saya perlu menyiksa diri dengan mendengarkan musik Jazz dan Dangdut itu? Sudah tersiksa mendengarnya, sempat-sempatnya lagi buang-buang waktu untuk menuliskan komentar. Apa nggak tersiksanya makin lama? Kalau sukanya Pop, ya sudah apresiasi yang bagus saja. Nggak perlu buang-buang waktu mengomentari hal yang tidak kita sukai?


Mengapa kita menulis review negatif?


Masalahnya adalah review negatif itu diperlukan orang. Tepatnya orang membutuhkan review yang BERIMBANG terhadap suatu produk. Sebagai calon pengguna, saya merasa perlu tahu komentar positif dan negatif dari sebuah karya untuk bisa memutuskan sesuatu. Terutama kalau itu benar-benar pengalaman pribadi. Bukan dibayar untuk mempengaruhi publik.

Sekarang ini gampang sekali sebuah produk membayar orang untuk memberikan review bagus terhadap karya mereka. Kita kesulitan mendapatkan review-review yang murni dari pengalaman pribadi. Yang bisa menyampaikan pengalaman dengan jujur, baik positif dan negatifnya. Ini yang mahal harganya. Saya kira itu yang menyebabkan tulisan review saya - walau negatif - di ambil Mizan untuk ditayangkan di blog mereka.

Saya sendiri sebelum memilih sebuah produk cenderung mendengar rekomendasi teman yang saya kenal dan saya percaya rekomendasinya. Jujur, saya bahkan cenderung mencari review negatif daripada review positif. Karena kalau review positif, kita tinggal buka websitenya. Semua informasi yang kita perlukan akan terpampang di sana. Semua kecap nomor 1.



Tapi kalau ada yang komentar negatif, itu akan menarik perhatian saya. Apakah komentar negatifnya mempengaruhi penilaian saya atau malah mendorong saya untuk ingin tahu? Contoh komentar negatif yang membuat saya jadi malah ingin mengetahui lebih lanjut adalah seperti kasus komentar negatif film anak Naura.

Saya sebenarnya bukan orang yang hobi nonton film bioskop. Tapi mengingat betapa menyedihkannya tingkat produksi film anak Indonesia, saya jadi merasa wajib menonton film yang di review jelek ini. Saya anggap ini sebagai bentuk dukungan agar makin banyak orang membuat film anak yang bermutu di Indonesia. Kalau saya tidak baca review jelek itu, mungkin saya nggak akan terlalu peduli dengan film tersebut.


Bolehkah kita menulis review negatif?

Saya sempat menanyakan ini ke beberapa teman di grup Whatsapp. Ada yang bilang sebaiknya jangan karena akan mempengaruhi pendapat orang lain. Tapi ada juga yang bilang tulis saja sejujurnya. Bagus bilang bagus, jelek bilang jelek. Subjektif itu tidak masalah. Namanya juga review pribadi.

Terkadang orang agak malas menulis review negatif karena takut menghadapai orang yang baperan dan bersumbu pendek. Sekarang ini kan dikit-dikit mainnya somasi. Mungkin orang sekarang memang banyak uang dan waktu untuk main-main di pengadilan.

Semuanya kembali ke etika yang dipegang oleh masing-masing pereview. Memberi review itu pastinya harus ada ilmunya, ada referensinya, ada jam terbangnya. Orang yang baru sekali dua kali memberi komentar, tentunya tidak terlalu di dengar dibanding orang yang kredibel di bidangnya selama bertahun-tahun.

Saya jadi teringat perkataan Helvi Tiana Rosa pada sebuah acara Forum Lingkar Pena di Bandung. Berdasarkan pengalamannya menjadi produser di film Ketika Mas Gagah Pergi The Movie (2016), beliau menyampaikan sebaiknya tidak memberikan review negatif untuk film-film yang membawa pesan baik.

Bikin film itu modalnya sangat lah besar dan masih sangat susah mengajak orang Indonesia untuk mau menonton film di bioskop. Jadi kalau bisa, janganlah 'memprovokasi' orang untuk tidak menonton film nasional.

Karena film menyangkut selera. Belum tentu juga bahwa pendapatmu sama dengan orang lain dalam memandang adegan yang sama. Kalau memang ada kritik membangun, sampaikan lah secara pribadi kepada pembuat filmnya agar bisa menjadi masukan untuk lebih baik. Jika filmnya memang bagus, sampaikanlah kepada orang-orang. Begitu katanya Kakak Asma Nadia ini.

Bagaimana menyikapi review negatif?

Nah ini kalau saya lihat tergantung keluasan wawasan juga sih. Kalau wawasan atau istilahnya mainnya kurang jauh, biasanya mudah sekali baperan dan bersumbu pendek dalam menilai sebuah review. Ditambah lagi faktor internal lain yang tidak bisa diabaikan adalah perut lapar dan dompet tipis. Ini sebuah kombinasi mematikan saat menyikapi sebuah review. Terutama review yang menyangkut selera.

Saya sendiri belajar cara menghadapi tanggapan negatif ini dari 2 orang. Yang seorang adalah guru menulis saya Bang Ahmad Fuadi yang menulis Trilogi Negeri 5 Menara. Sebelum buku tersebut terbit, naskah buku tersebut diberikan dulu ke-20 orang mewakili beberapa background untuk di review. 20 orang dianggap cukup untuk mewakili komentar pembaca. Ada masukan yang diterima untuk kemudian naskahnya disempurnakan, ada yang diabaikan karena dianggap tidak relevan.
Sempat ada komentar negatif yang cukup panjang di Goodreads saat novel N5M muncul. Tapi ternyata tidak terlalu mempengaruhi penjualan. Bahkan novel N5M termasuk jajaran novel best seller Indonesia.

Kalau katanya Adhitya Mulya penulis Sabtu Bersama Bapak, lebih baik karya kita direview negatif dulu sama orang-orang sebelum terbit, daripada setelah terbit bukunya tidak laku dan dijual jadi kertas kiloan. Sakitnya tu di sini (tunjuk dompet).

Selain Bang Fuadi, Nouman Ali Khan dalam salah satu ceramah YouTubenya juga pernah cerita soal ia pernah dikomentari negatif oleh salah satu jamaahnya. Padahal saat itu, iya merasa sangat yakin ceramahnya sangat bagus dan sempurna. Tiba-tiba ada jamaah yang datang, dan bilang apa yang ia sampaikan itu omong kosong semua. Marahkah beliau? Ia memilih meminta si jamaah tersebut menyampaikan keluhannya. Cukup lama Nouman Ali Khan mendengarkan penuturannya. Ternyata memang ada bagian yang ia setuju dengan si jamaah, dan ada bagian yang tidak. Pada akhirnya mereka berdua sama-sama senang. Nouman Ali Khan mendapat masukan baru, dan si jamaah senang karena merasa bisa membantu dan akhirnya juga bisa menerima penjelasan sang penceramah.

Jadi kita memang perlu melatih diri menghadapi review negatif dengan bijak. Agar bisa bermanfaat untuk membuat karya yang lebih baik lagi. Jangan-jangan kita bahkan perlu bayar orang agar mau susah payah mengulik-ulik kekurangan kita dan menyisihkan waktu mereka untuk bisa membuat kita lebih baik. Bersyukurlah kalau masih banyak orang yang rela melakukan itu for free. Nanti yang di review sudah sampai ke bulan, yang mereview masih jalan di tempat. Ha…ha…


Kesimpulannya kalau menurut saya, kita tetap perlu review yang berimbang. Review yang disampaikan dengan jujur apa adanya. Bukan review yang dibayar dengan niat jahat menjatuhkan karya orang lain dengan cara tidak adil. Kalau yang terakhir ini sih haram hukumnya!

Jangan pernah takut menyampaikan pendapat sejujurnya ya teman-teman, karena suaramu tetap perlu di dengar. Sebagai masukan berharga agar orang lain dapat berkarya dengan lebih baik.

Kalau teman-teman sendiri bagaimana pendapatnya? Perlukah kita menulis review negatif terhadap karya orang lain? Atau memilih hanya mereview yang asyik-asyik saja?

Selamat mereview dan berbagi manfaat dengan orang lain!


9 komentar:

  1. Kalau saya biasanya memberi komentar negatif sesuai pengetahuan saya saja. Kalau film paling dari segi akting atau alur ceritanya. Entah ya kalau misalnya nonton ayat-ayat cinta bakal gimana review saya nanti.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mestinya begitu ya Antung. Tapi kadang memang ada karya yang sukses banget bikin kita jadi emosional dan 'anarkis'. Saya kira, sebenarnya orang yang bisa bikin karya dan membuat orang mengomentarinya itu lumayan hebat. Baik itu komentar negatif maupun positif, yang sifatnya sangat relatif. Daripada karya yang bahkan dilirik pun nggak oleh orang lain. Kayanya lebih menyedihkan deh.

      Hapus
  2. Aku suka kata kata "berimbang" tanpa berat sebelah, jangan takut kita tidak dpt Job. Terkadang negatif bisa menjadikan bahan pelajaran

    BalasHapus
    Balasan
    1. Jangan salah, bahkan kritik negatif malah bisa mendatangkan rejeki karena direkrut untuk bisa memperbaiki kekurangan oleh pihak yang di kritik. Lupa dapat cerita ini dari mana.

      Hapus
  3. Miss berusaha jujur pada diri tapi perlu di ingat ada uud ite. Ngeri ngeri sedap. Belajar review negatif

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ada teman yang bilang, makanya cek-cek dulu yang mau di review. Tipe open minded atau sumbu pendek. Nasib lah kalau orang yang gampang baperan, cenderung nggak bisa maju. Karena tidak bisa melihat kritik sebagai masukan yang sebenarnya bisa sangat bermanfaat.

      Hapus
  4. Mengulas dengan sopan dan secara etis. Kalaupun ada kekurangan, sampaikan dg cara halus. IMHO.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Cakep Helena. Cuma kadang orang saking gondok dan nafsunya jadi begitu semangat buat menyampaikan kekesalannya. Saya juga kadang kalau kesal dengan suatu karya, seringnya sampahnya di keluarin dulu ke teman-teman se geng di grup WA, atau ngobrol sama suami. Kalau sudah rada tenang dan mendengar pendapat lain, baru pikiran rada jernih untuk menulis dengan lebih sopan. Aslinya mah kesel banget. Jadi ingat kasus waktu mereview Novel Critical Eleven. Its so not me.

      Hapus
  5. Saya dulu dilema atas karya yang saya buat berbulan-bulan dengan bermandikan air mata darah ternyata dikomentari jahat oleh orang lain, bukan oleh satu dua orang, melainkan banyak.

    It should shock every creator out, shouldn't it?

    Mostly mereka cuma bilang, "itu jelek, buruk, dst.. dst..." tanpa saya tahu apa alasannya. Ketika saya tanya, memang sebagian besar hanya masalah selera. Saya sadar ternyata saya tidak dapat membahagiakan setiap orang.

    Oh, setidaknya saya mendapatkan banyak komentar bagus dari para profesional.

    Kita hidup di negara 'baper' yang baru di'colek' sedikit saja sudah hilang motivasi, merasa tidak dihargai, mengamuk, dst, dst. Padahal Tuhan saja masih dihina oleh orang-orang idiot.

    Pada akhirnya, banyak anak bangsa yang berbakat justru memilih berkiprah di negeri orang, yang pada akhirnya seperti kacang lupa akan kulitnya. Padahal orang-orang yang komentar jahat di luar negeri pun jauh lebih banyak, sedangkan kita merasa karya kita lebih dihargai di luar sana. Benar-benar bias yang sangat luar biasa. Akhirnya? Nasionalisme mereka hilang, mereka juga pada akhirnya tidak berkembang, dan kita masih akan tetap terpuruk.

    Tetapi jika komentarnya reasonable, seperti kamu seharusnya begini dan begitu, saya masih menganggap itu komentar positif. Mereka rela membuang waktu mereka demi menyampaikan alasan akan kekurangan karya kita dan memang layak kita dengarkan.

    Di satu sisi, melulu mendengarkan pujian-pujian dapat berakibat fatal. Kita tidak ingin seperti Eminem yang pada akhirnya disuruh pensiun oleh para fansnya sendiri.

    Artikel ibu Shanty ini termasuk artikel yang diperlukan untuk membangkitkan kembali semangat orang-orang yang telah mendapatkan komentar-komentar jahat. Secara, karya yang dibuat sepenuh hati ternyata dihancurkan mentah-mentah oleh pandangan-pandangan subjektif dengan bahasa-bahasa yang super keji.

    Terima kasih artikelnya. Teruslah membuat artikel seperti ini. :)
    Sori komennya sepanjang kali monyet hahah.

    BalasHapus

Diberdayakan oleh Blogger.