Oleh-oleh Pelatihan Active Citizens British Council BCCF Bandung

January 19, 2018


Coba ngacung dulu siapa yang punya hobi ngomel-ngomelin pemerintah karena payah banget mengurus negara? Gas melon susah di cari, sampah bertebaran di mana-mana, sekolah mahal, sampai segala papa nabrak tiang listrik lah bisa jadi bahan omelan yang sering kita temui di timeline sosmed.

Tapi apa hasilnya dengan ngomel-ngomel begitu? Waktu habis terbuang, hati malah makin panas. Lantas sebagai warga negara ada nggak sih yang bisa kita lakukan selain sekedar kritik tanpa bisa jadi bagian dari solusi?

Jadi ceritanya, setelah cape ngomel-ngomel, dan didengerin pun nggak, saya mencoba pendekatan lain agar hidup saya ini tidak berhenti sia-sia hanya sebatas ngomel di sosmed. Dalam beberapa tahun terakhir, setelah anak-anak mulai masuk sekolah, mulai deh saya coba bergabung dengan beberapa komunitas. Mulai dari lingkungan arisan tetangga, lingkungan sekolah anak-anak, lingkungan ibu-ibu dalam satu kota, sampai akhirnya gabung dengan komunitas berskala nasional.

Ternyata ketika bergabung dengan komunitas, kita akan menemukan banyak kondisi yang menuntut kita untuk terus belajar.

Bagaimana sih caranya bisa bekerja sama dengan orang lain untuk mewujudkan sebuah kepentingan bersama? 

Kita akan bertemu dengan berbagai jenis orang dengan kepentingannya masing-masing. Pastinya ada ilmu khusus nih bagaimana caranya agar kita bisa bekerjasama dengan orang lain.

Salah satu teman saya di Ibu Profesional Bandung, Isti Khairani, pada Oktober 2017 lalu menginformasikan sebuah pelatihan keren bernama Active Citizens. Sebuah program pelatihan kepemimpinan sosial yang diselenggarakan oleh British Council (Iya, British Council yang tempat kursus bahasa Inggris itu). Peserta akan dilatih selama 4 hari untuk mengenali dirinya sendiri, bisa berdialog dengan orang lain, dan bekerja bersama untuk mewujudkan sebuah proyek sosial.

“Pelatihannya seru, banyak game-gamenya,” rekomendasi Isti di grup WA Pengurus Ibu Profesional Bandung.



Apa itu Pelatihan Active Citizens?

Pelatihan Active Citizens di mulai sejak tahun 2009. Kini pelatihan ini telah menjangkau 54 negara, diikuti oleh 200 ribu orang lebih, dan menghasilkan 7800 proyek aksi sosial bagi masyarakat.

Dengan slogan Globally Connected, Locally Engaged, Active Citizens memiliki visi untuk menciptakan dunia dimana manusianya bisa bersinergi secara efektif dalam komunitas mereka. Harapannya, setelah mengikuti pelatihan ini, peserta bisa melaksanakan aksi sosial di komunitasnya dengan perspektif baru.

The vision of the programme is a world where people are empowered to engage peacefully and effectively with others in the sustainable development of their communities. -  source: Active Citizens tool kits

Ketika mendengar Active Citizens akan dilaksanakan di BCCF Bandung, langsung dong saya daftar. Siapa sih yang nggak mau ketinggalan pelatihan sekeren ini. Mumpung dekat dan gratis.

Sejak awal sudah disampaikan bahwa pelatihan ini diperuntukan bagi member komunitas. Jadi teman-teman harus punya komunitas dulu sebagai wadah untuk nantinya bisa mempraktekkan ilmu-ilmu yang disampaikan. Boleh komunitas di sekolahnya, di lingkungan rumahnya, di pengajiannya, atau komunitas hobinya. Nanti penyelenggara akan menyeleksi setiap peserta karena kapasitasnya yang memang tidak banyak-banyak. Sekitar 20 orang.

Walau tidak ada batasan usia, umumnya yang ikut program ini banyaknya anak-anak muda. Tapi jangan khawatir, emak-emak berjiwa muda juga boleh ikut kok. Bagaimana pun ini ilmu seru yang perlu dipelajari banyak orang.

Intinya pelatihan ini direkomendasikan bagi mereka yang memiliki jiwa sosial dan kepekaan terhadap masalah di lingkungannya, punya pengalaman melakukan aksi sosial, tertarik untuk menambah wawasan, dan memiliki kemampuan berkomunikasi.

Yang perlu disiapkan juga adalah stamina untuk bisa hadir di pelatihan ini selama 4 hari full day. Serius euy 4 hari dari pukul 9.00 - 16.00 hari Kamis hingga Minggu. Ini merupakan syarat yang harus dipatuhi sejak awal. Bukan apa-apa, sayang aja kalau ilmu pelatihan ini dapatnya sepotong-sepotong.

Buat emak-emak kaya saya, lumayan PR juga untuk mengkondisikan anak-anak. Untuk hari Kamis, saya meminta bantuan Mama untuk menemani anak-anak yang pulang sekolah pk 14.00 siang. Untuk hari Jumatnya, suami rela pulang lebih cepat demi istrinya bisa dapat ilmu. Kalau weekend sih aman, anak-anak bisa diminta menjaga Abahnya di rumah. Cup cup muah muah lah buat suami dan anak-anakku tercinta.


Pelatihan Active Citizens 4 hari itu ngapain aja?

Serius itu 4 hari? 

Yup serius.

Malah kalau lihat tool kit aslinya yang bisa kita unduh di website British Council, lamanya 5 hari. Mungkin program aslinya Senin - Jumat. Hanya saja tiap penyelenggara bisa sedikit memodifikasi dengan kondisi di setiap tempat.

Modul pelatihan ini sebenarnya bisa dilihat bebas. Terbuka untuk umum. Tapi kalau menurut saya, jauh lebih asyik kalau kita mempratekkannya bersama teman-teman dalam pelatihan. Lebih terasa ilmunya dengan mempraktekkan langsung dan sambil berdiskusi dengan teman-teman.

Juga tidak semua modul yang ada di tool kit, dilaksanakan dalam pelatihan. Fasilitator memilih beberapa tool kit yang memang sesuai untuk kondisi di Indonesia.

Hari 1: Modul 0 - Pengenalan Active Citizens dan Modul 1 - Me: Identity & Culture 
Hari 2: Modul 2 - Me & You: Intercultural dialog
Hari 3: Modul 3 - Local & Global Community
Hari 4: Modul 4 - Planning and Delivering Social Action.

Ini yang saya suka dari pelatihan Active Citizens. Kita jadi punya bayangan seperti apa pelatihan ini akan berlangsung, apa yang akan kita pelajari setiap harinya dan apa yang akan kita capai. Jadi sayang kan kalau ada modul pelatihan yang kita lewatkan.
Peserta Active Citizens BCCF 19 - 22 Oktober 2017 yang berasal dari beragam komunitas di Bandung


Game-game seru dalam pelatihan Active Citizens

Serius deh, ini yang buat pelatihannya jago banget. Bisa banget menemukan game-game yang membuat kita menjadi lebih memahami materi. Semua materi disampaikan dalam game. Ada lusinan game yang dimainkan dalam pelatihan ini. Berikut saya akan sharing beberapa game yang menurut saya menarik:


#1 Globingo

Ini sebenarnya kenalan biasa. Cuma namanya unik ya. Globingo! Ceritanya walau sudah say hello di grup WA, kita belum benar-benar saling kenal nih dengan teman-teman sesama peserta pelatihan.
Setiap peserta diminta mengisi selembar kertas yang berisi 9 pertanyaan. Pertanyaannya seperti: Cari teman yang memainkan alat musik? Cari seseorang yang pernah masuk koran dan karena apa? Cari seorang bobotoh persib dan siapa pemain favoritnya?

Pokoknya pertanyaannya unik-unik. Setiap orang harus cepat menemukan 9 orang berbeda untuk menjawab pertanyaan tersebut. Saya sendiri ternyata cuma ketemu 6 orang dari waktu yang tersedia.


#2 Tree of expectations

Sebagai permulaan, peserta diminta untuk menuliskan beberapa hal dalam post it kecil warna-warni. Nantinya post it ini akan ditempelkan sebagai akar, daun, buah dan batang dari sebuah gambar pohon.

Pada bagian akar dituliskan apa yang menjadi modal yang kita bawa dalam pelatihan ini (bisa keahlian, koneksi, sikap/perilaku). Pada bagian daun dituliskan apa yang ingin kita capai pada akhir pelatihan. Untuk buah, diminta menuliskan apa tujuan jangka panjang kita dari pelatihan. Dan terakhir pada bagian batang, kita harus menuliskan aturan-aturan apa yang perlu disepakati untuk bisa bekerja sama mencapai tujuan pelatihan ini. Jadi kebayang deh arah dan tujuan dari pelatihan ini.


#3 Active Citizens Learning Journey - The River

Ini sebuah cerita untuk memberikan pemahaman mengenai program pelatihan Active Citizens yang digambarkan sebagai perjalanan sungai dari hulu yang tenang, bertemu dengan alur sungai-sungai lain, dan kemudian berkumpul bersama di lautan.

Sebuah filosofi yang menggambarkan bagaimana kita perlu mengenali karakter dan keunikan diri (modul 1). Baru setelah itu belajar untuk berdialog dengan orang lain (modul 2). Selanjutnya kita akan belajar mengenai bekerja sama dengan sekelompok orang (modul 3). Terakhirnya materi tersebut dipraktekkan dalam sebuah Social Action Plan (modul 4) yang akan bersatu mewujudkan dunia yang lebih baik bagi semua.


#4 Two truths and one lie

Ini kocak juga nih. Setiap peserta diminta untuk menulis 2 hal benar dan 1 hal tidak benar tentang dirinya. Kemudian diminta menyampaikan 3 hal tersebut kepada temannya. Temannya harus menebak mana yang tidak benar.

Misalnya kalau saya menulis 2 hal benar yaitu saya tidak suka ular dan saya orang NTB. Saya juga menulis 1 hal yang tidak benar yaitu saya sudah menulis 5 buku.

Dari game ini kita belajar yang namanya asumsi. Betapa mudah kita berasumsi mengenai orang lain. Kita ‘menuduh’ orang begini, padahal sebenarnya begitu. Banyak tebakan teman-teman yang salah. Jadi paham deh, kalau kita memang bisa saja berasumsi, tapi jangan lah memegangnya terlalu erat hingga bisa mempengaruhi penilaian kita terhadap orang lain.

Jadi berhati-hatilah untuk tidak memegang asumsi untuk menilai orang lain.


#5 Mengenali identitas yang terlihat dan tersembunyi

Ternyata tidak semua identitas diri bisa terlihat dengan dengan mudah. Ada yang mudah terlihat ada juga yang disembunyikan. Bahkan ada identitas yang bahkan masih menjadi misteri bagi orangnya sendiri.

Ada yang namanya Johari Window untuk kita bisa mengenali apa yang kita dan orang lain ketahui tentang diri kita (free), apa yang kita tahu tapi orang lain tidak tahu tentang diri kita (hidden), apa yang orang lain tahu tentang kita tapi kita malah tidak tahu (blind), atau yang benar-benar tidak ada yang tahu (mystery).

Mengapa kita perlu mempelajari ini? Dalam rangka membuat kesepakatan dengan orang lain, harus ada rasa percaya dari orang lain. Rasa percaya itu akan muncul jika tidak terlalu banyak hal yang tersembunyi dan ditutup-tutupi.


#6 Elephant and 6 blind man

Game ini dimainkan pada hari kedua pelatihan. Fasilitator meminta peserta menutup mata dan mencoba meraba sesuatu di dalam tas dalam waktu hanya beberapa detik. Setelah semua peserta meraba, mereka diminta membuat kelompok yang terdiri dari 3 orang. Setiap kelompok diminta menggambarkan apa yang tadi mereka pegang.

Kocak abis lah melihat hasil gambar setiap kelompok. Ada yang menggambar ulat berkaki banyak, naga, dan lain-lain. Dialog lucu-lucu pun muncul. “Saya merasa kaya pegang kaki yang banyak.” “Sepertinya memiliki ekor.” “Ada bagian yang kerasnya.” Ada yang keukeuhan, ada yang malas berdebat dan ujung-ujungnya bilang, “Saya sebenarnya mau bilang itu.”

Dari game ini peserta belajar akan perlunya dialog untuk bisa melihat permasalahan secara utuh.

Jadi hewannya apa? UNTA! Jawaban peserta salah semua.

#7 Listening at 3 levels

Ini juga adalah game yang paling saya suka. Kita diajak untuk belajar memisahkan informasi yang disampaikan seseorang berdasarkan Fact (Fakta), Feeling (Perasaan) dan Purpose (tujuan). Ini penting banget! Kebiasaan kita adalah mencampur adukkan antara fakta, perasaaan dan tujuan saat berkomunikasi dengan orang lain.

Ini bagus sekali untuk dipraktekkan dalam berkomunikasi dengan suami di rumah. Misalnya gini ya, “Abah, Mama kesel nih.” - ini perasaan.
“Pekerjaan di rumah ini kok ya nggak beres-beres. Mama kerja dari pagi sampai sore seperti tidak ada hasilnya.” - ini faktanya.
“Abah, bisa bantu cuci piring nggak?” - ini tujuannya.

At least if works for me, daripada ngomel dengan tidak jelas maunya apa. Ha…ha…


Game lainnya

Wah udah banyak ya game yang saya sharing. Sebenarnya masih banyak game yang sangat berkesan buat saya. Seperti game Powerwalk yang mengajarkan bagaimana peran seseorang (seperti sekedar anak kecil, mahasiswa, walikota, penyandang disabilitas, atau single parent)  membatasi mereka untuk mendapatkan hidup yang lebih baik.

Dalam game Global Snap, kita belajar bagaimana ternyata setiap masalah lokal, itu berhubungan dengan masalah global. Jadi andai kita bisa menyelesaikan masalah lokal yang kecil-kecil, secara tidak langsung masalah global akan bisa terurai.

Sementara dalam System Triangle Game, peserta jadi tahu bahwa ada orang yang bisa jadi pengungkit (leverage point) dalam masyarakat. Cukup pegang dia, maka seluruh komunitas akan ikut terpengaruh.

17 masalah global yang menjadi Sustainable Development Goals. Sumber: wikipedia


Pelatihan yang unik dan tidak membosankan kan?

Output dari pelatihan ini adalah Social Action Plan yang harus kita laksanakan di komunitas masing-masing. Its time to put into practice.


Siapa Fasilitator Active Citizens?

Jadi siapa yang jadi Guru pelatihan ini? Siapa kira-kira orang yang sanggup jadi guru 4 hari nonstop? Nah ternyata sistemnya bukan guru kaya di kelas gitu. Game-game di setiap modul disampaikan secara bergantian oleh para fasilitator. Jadi nggak membosankan. Tidak ada guru yang ngajarin ini itu di sini. Tapi sebatas memandu peserta untuk mengerjakan games dan berdiskusi untuk membuat kesimpulan sendiri, yang nantinya akan dirangkum oleh fasilitator.

Ada beberapa fasilitator yang menemani kami di kelas ini. Pimpronya ada M. Ilham Kurnia Ramdhani dari BCCF. Ada juga Kang Jimmy Febriyadi, Kang Yudi Utomo, Kang Mohamad Fahmi, Kang Lingga, Teh Isti Khairani, dan Bu Wiwin. Bersama mereka, pelatihan 4 hari jadi terasa asyik dan seru.

Mengapa sih perlu ada program pelatihan Active Citizens?

Kang Jimmy Febriyadi sempat menjelaskan bahwa berdasarkan pengalaman, memberikan bantuan langsung tunai itu sering kali tidak efektif. Masyarakat perlu mengenali dirinya dulu sebelumnya. Dengan mengenali diri, akan lebih mudah bagi seseorang menempatkan dirinya dalam masyarakat. Setelah tahu potensi dirinya, ia bisa belajar untuk mengenali potensi komunitas untuk bersama-sama bergerak kearah yang lebih baik. Urutannya harus seperti itu. Kalau langsung diberi uang begitu saja, bisa berantakan semuanya. Bukan hal yang asing kan ya yang seperti ini.

Sebenarnya Active Citizens di Indonesia di mulai sejak tahun 2016. Di mulai dari Training for Trainers yang diadakan di Lembang pada Oktober 2016 dan di Bali pada Maret 2017. Di Bandung sendiri, telah diadakan 3 kali pelatihan Active Citizens. Sebelumnya pada bulan Mei 2017 di Bale Motekar Unpad, bulan Juli 2017 di ITB, dan pelatihan ketiga yang saya ikuti pada 19 - 22 Oktober 2017.

Teman saya Isti yang juga penggagas Komunitas Bumi Inspirasi, setelah mengikuti pelatihan di TFT di Lembang, beruntung mendapatkan kesempatan mengikuti International Study Visit Active Citizen di UK pada Februari 2017. Isti sempat sharing bagaimana serunya berbagi Proyek Aksi Sosial mereka dengan dan teman-teman Active Citizens dari berbagai negara. Kece banget nggak sih!

Mengapa perlu ikut pelatihan Active Citizens?

Jadi worth it nggak sih menghabiskan 4 hari untuk ikut pelatihan ini? Kalau buat saya worth it pakai banget. Di luar materinya yang memang kece dan GRATIS (buat emak-emak ini penting!) ada hal lain yang menurut saya sangat berharga.

Apa tuh?

Network dong. Jarang-jarang lah dapat kesempatan bertemu dengan orang-orang yang punya jiwa sosial dan berpengalaman dalam sejumlah komunitas yang kece-kece. Sebelumnya saya cuma kenal komunitas emak-emak kaya IIP, komunitas emak blogger, komunitas parenting, dan sejenisnya.

Dengan mengikuti pelatihan Active Citizens di BCCF ini saya jadi kenal Fajar dan Dedi dari Sacita Muda, Ali dari Rumah Mimpi, Yuliasri dari Senemu Writers, Fatin dari Insan Bumi Mandiri, Caca dari Rabbani Responsible (bukan Rabbani Jilbab  loh katanya), Selly dari Sahabat Museum KAA, Irwan dari Islam Versus Reality (IVR), Asmita dari Ima-Gunadharma ITB, sampai Bela dan Rizki dari BCCF. Ternyata banyak komunitas kece di luar sana.

Dan ssstttt....bertemu dengan orang-orang berjiwa sosial kaya gini auranya beda. You have to feel it yourself.


Jadi bagaimana caranya mau ikut pelatihan Active Citizens?

Pantengin aja infonya di website BCCF, Active Citizens dan informasi yang tersebar dari link-link di komunitasmu tercinta. Atau teman-teman bisa follow sosmed saya di Twitter, Fan Page, dan IG @ceritashanty. Jika ada info terbaru untuk program kece ini, akan saya share di sana.

Lets be #ActiveCitizens to your community.

Teman-teman Pelatihan Active Citizens di BCCF saat hari terakhir. 

4 comments:

  1. Yess oke bingits Teh. Bunda share nuhun yaa tulisannya lengkip dan lengkap !

    ReplyDelete
  2. Menarik sekali kegiatannya, semoga masih banyak pelatihan serupa buat para ibu berjiwa muda ya mbak :)

    ReplyDelete
  3. Wah saya baru tahu nih tentang komunitas ini. Kalau saya, daripada sibuk mengkritik pemerintah sebaiknya dengan dibarengi memperbaiki diri. Misalnya buang sampah pada tempatnya, tidak memakai gas 3 kg kecuali memamg merasa rakyat miskin dll

    ReplyDelete
  4. Bagus tuh pelatihannya, apalagi fasilitatornya kang Yudi sama Kang Lingga, recommwnded pisan.

    ReplyDelete

Powered by Blogger.