Pengalaman Menghadapi Anak yang Suka Memukul

November 18, 2017


Apakah teman-teman pernah punya anak yang suka memukul dan di cap anak nakal oleh lingkungan?

Saya pernah. Dan itu rasanya sedih sekali.

Saya jadi mau berbagi pengalaman sekitar 5 tahun lalu. Ceritanya ini dalam rangka menanggapi postingan teman saya Mak Eva Dzulhulaifah Rahmat di blog Kumpulan Emak Blogger Jangan Sebut Ia Anak yang Nakal. Sebuah postingan yang tertunda lama sekali.

Ketika Raka kelas TK A, ia sempat punya hobi menyentuh orang lain dengan tenaga penuh. Namanya juga mamanya, saya awalnya cenderung melihat itu sekedar anak kecil yang tidak bisa mengontrol energinya saja.

Raka memang anak yang luar biasa aktif sejak bayi. Dia harus selalu bergerak dengan lincahnya sampai bikin pusing orang yang melihatnya. Kadang lari keliling rumah tanpa berhenti puluhan kali, berputar-putar sampai pusing, atau memainkan sesuatu dengan tangannya. Pokoknya selama dia bangun, dia pasti selalu terlihat mengerjakan sesuatu. Asli nggak bisa diam.

Nah begitu batreinya habis, dia langsung bisa terkapar tertidur pulas di mana saja. Dalam posisi apa pun. Saya sampai punya 1 album di FB spesial untuk posisi tidur Raka yang aneh-aneh. *Emak model apa saya ini, bukannya mindahin anak, malah keketawaan dan mengupload foto anaknya di FB. Dont try this at home.


Keluhan dari sekolah

Hingga suatu saat, saya dapat laporan dari gurunya di TK A kalau Raka nggak bisa diam di kelas.

Bukan hal aneh.

Buat gurunya itu memang bukan hal aneh dan masih OK. Raka diijinkan berlari-lari di kelas atau sibuk main sendiri sambil mendengarkan gurunya menerangkan sesuatu. Namanya juga TK, hal seperti ini tentunya masih ditolerir.

Sebenarnya ini alasan saya memilih sekolah setelah free trial 2 hari. Penting loh sekolah atau guru yang bisa mengerti mengenai anak-anak yang gampang bosan dengan posisi duduk mendengarkan pada usia dibawah 7 tahun. Kalau usia 7 tahun ke atas masih begitu, itu baru tidak normal.

Kalau di rumah mau pecicilan dan jungkir balik ya tidak masalah. Ketika di sekolah, ternyata hal seperti ini ada batasnya. Karena bisa mengganggu konsentrasi teman lain. Ini yang jadi keluhan gurunya. Teman-temannya akan tergoda ikut main.

Kalau Raka main, ia tetap mampu menyimak materi dengan sangat baik. Raka itu punya kemampuan mengingat yang sangat luar biasa. Saya pikir bisa jadi ini akibat dari selalu bergeraknya Raka. Saya pernah baca bahwa bayi yang aktif bergerak cenderung memiliki kemampuan otak yang lebih baik dibanding bayi yang lebih anteng. Wallahualam.

Tapi sayangnya buat anak lain hal ini tidak selalu berlaku. Kalau sambil main, maka mereka akan ketinggalan mengenai apa yang disampaikan. Semua gara-gara Raka.

Dan satu lagi keluhan gurunya yang parah adalah kebiasaan Raka memukul temannya. Pukulan Raka walau masih berusia 4 tahun, rasanya sakit. Saya saja kalau kena kibas tangannya secara tidak sengaja suka kesakitan.

Sebenarnya di rumah juga Raka suka memukul dan mencolok mata Sasya yang waktu itu masih berusia dibawah 1 tahun. Jadi sebenarnya keluhan ini bisa saya pahami.

Saya sempat abai dengan masalah ini sampai melihat Raka menjadi tidak bahagia. Ia menjadi sering ngompol. Di sekolah Raka dijauhi teman-temannya. Ya iya lah, siapa yang suka dan berani dekatan dengan anak yang suka memukul?

Walau sudah diingatkan berulang kali, Raka tetap mengulang perbuatannya. Akhirnya ia jadi sering dimarahi. Dan konsekuensi terberat tentunya dijauhi teman-temannya. Ternyata konsekuensi dengan mengingatkan bahkan memarahi bukanlah solusi. Dijauhi teman juga malah membuatnya makin mudah kesal dan memukul teman yang nggak mau diajak main bareng.

 Membalas tidak selalu merupakan solusi

Saya sempat ngobrol dengan orang tua yang anaknya sering dipukul Raka.

"Coba Rakanya balas dipukul, biar tahu rasa sakitnya dipukul," saya mencoba memberi solusi.

Tapi menurut orang tua si anak, membalas bukan lah solusi. Anak yang suka memukul tidak selalu bisa disadarkan dengan melakukan hal yang sama terhadapnya. Apalagi kalau anak yang dipukul bukanlah anak yang bisa memukul orang lain. Anak yang sudah tahu bahwa memukul orang lain itu bukanlah hal yang baik.

Benar-benar orang tua yang bijak ya.

Saya jadi teringat pernah mengalami hal yang sama saat di bangku SMP. Ketika SMP ada hukuman kalau terlambat hadir saat upacara akan diminta saling menempeleng dengan temannya. Hukumannya barbar amat ya. 

Jadi ceritanya pernah satu kali saya terlambat. Saya dapat giliran ditempeleng pertama kali. Pas ditempeleng saya nangis dong. Entah karena sakit atau malu. Itu tempeleng pertama yang pernah saya terima dalam hidup. Setelah itu saya disuruh balas. Ternyata nggak bisa. Selain nggak pernah ditempeleng, saya juga nggak pernah memukul orang lain.

Tidak semua orang bisa membalas atau merasa perlu membalas untuk menyakiti orang lain. Karena ia tahu itu terlalu menyakitkan untuk orang lain.

So at this point, saya sepakat dengan orang tua si anak yang dipukul Raka kalau membalas bukanlah solusi terbaik.

Jadi bagaimana membuat Raka berhenti menyakiti orang lain? Membuatnya bisa diterima teman-temannya dan kembali bahagia menikmati masa kanak-kanaknya?

Diskusi dengan guru

Saya merasa sangat beruntung, Raka punya guru bernama Bu Ai yang asyik buat diajak diskusi. Beliau menyempatkan ke rumah saya untuk mengobrol mengenai masalah Raka. Bu Ai tahu saya punya bayi yang nggak bisa ditinggal. Jadi beliau yang datang ke rumah. Bukan hanya sekali tapi beberapa kali hingga masalah ini beres.

Dari hasil diskusi akhirnya kami menyimpulkan akar masalahnya adalah Raka kurang perhatian mamanya yang sibuk dengan adik baru.

Raka dimasukkan ke TK di usia 4 tahun kurang 3 bulan dengan alasan agar saya nggak terlalu kerepotan mengurus 2 anak. Harapannya dengan berada di sekolah selama beberapa jam, saya bisa fokus dengan si adik. Bahasa kasarnya, Raka 'dibuang' ke sekolah. Bisa jadi rasa 'dibuang' ini yang mendasari perilaku suka memukul Raka.

Sasya lahir saat Raka usia 3 tahun 3 bulan. Sebelumnya, kami selalu bermain berdua. Saya full time mengikuti segala model permainan yang ia suka. Saat itu belum ada sosmed yang biasa mengganggu perhatian ibu-ibu jaman now.

Ketika Sasya lahir, perhatian saya jadi terbagi. Apalagi Sasya agak rewel sampai usia 6 bulan. Raka pun jadi kehilangan sahabat kesayangannya. Ditambah lagi ia 'dibuang' ke sekolah! Raka sempat 3 bulan tidak mau di tinggal di sekolah. Maunya selalu ditemani. Kebayang nggak ribetnya bawa bayi sambil menemani anak di kelas TK. Padahal pagi kan jam tidur Sasya.

Dengan penuh drama, setelah 3 bulan akhirnya Raka disapih dari ditemani mama di sekolah. Wah sempat heboh ngamuk menangis meraung-raung di pagar sekolah. Untung hanya berlangsung beberapa jam. Dan besoknya sudah normal.

Ternyata memang benar, kalau ibunya sudah kuat dan tega, Insya Allah ke anaknya juga lebih mudah.

Saya nggak sempat pakai teori satu tahap demi satu tahap, untuk melepas anak sekolah sendiri. Pokoknya dipaksakan dan langsung bisa aja. Cukup 3 bulan menemani dan harus bisa,” tekad saya. Cuma ya itu, beberapa bulan kemudian kasus memukul ini muncul.

Ketika kita hanya berdua...


Solusi dengan memberi waktu khusus lebih banyak

Saya pun mencoba pendekatan menyediakan waktu berdua untuk Raka. Saya usahakan punya waktu khusus mengantar Raka ke sekolah. Sasya sementara dipegang Abahnya dulu sebelum ke kantor.
Dalam perjalanan kaki ke sekolah yang jaraknya hanya 250 meter dari rumah, kami berpegangan tangan. Hanya kami berdua selama beberapa menit. Di sekolah saya sempatkan menemaninya bermain sebentar di halaman sekolah. Saya tahu ia sangat menikmati momen itu.

Di rumah saat Sasya tidur, saya akan menemani Raka main. Menemaninya main puzzle, balok-balokan, atau mobilan-mobilan. Just like the old days. 

Kalau akhir minggu, saya coba pergi berdua Raka sebentar. Sekedar jalan-jalan ke warung atau belanja sarapan. Sasya saat itu belum bisa ditinggal lama karena masih harus menyusu tiap 2 jam. Saya orangnya terlalu pemalas untuk pompa ASI dan meminumkannya melalui botol. Bukan apa-apa, malas cuci botolnya. Ditambah Sasya masih nempel seperti perangko dan gampang panik kalau nggak lihat mamanya. Mamanya ke kamar mandi aja, mereka bisa stress dan gedor-gedor pintu. Mungkin khawatir mamanya hilang ditelan kamar mandi.

So there is no me time for me back then.

Stress? Pasti!

Hanya satu kesadaran yang membuat saya tetap semangat. Bahwa semua ini hanyalah sekejap. Paling hanya sampai anak-anak usia sekolah 5 tahun. Akan tiba saatnya mereka bisa mandiri. Ini adalah masa saya harus menyiapkan pondasi buat anak-anak. Biarlah mereka sampai eneg dan puas lihat mamanya. Biarkan batrei ‘kebutuhan keberadaan mama’ penuh 100% sebagai modal masa depan mereka.

Kembali ke usaha untuk mengatasi masalah memukul ini. Saya juga setiap malam sebelum tidur berusaha menemaninya sebelum tidur. Menciumi tangannya dan berdoa semoga tangan itu berlaku lembut dan tidak dibuat untuk menyakiti orang lain. Di telapak tangan itu ada garis tangan yang akan mengingatkan kita pada Allah. Di tangan kanan kalau kita perhatikan bahwa garis tangan yang utama akan menunjukkan angka Arab 18. Sementara tangan kiri menunjukkan angka Arab 81. Kalau dijumlahkan menjadi 99. Ini mengingatkan kita 99 nama Allah Asmaul Husna. Dengan mengingat ini, semestinya sadar untuk tidak pernah menyakiti orang lain dengan tangan kita. Saya tiupkan sebait doa ke tangan Raka di saat menjelang tidurnya.

Alhamdulillah dengan memberikan waktu dan doa, hobi memukul Raka pun hilang dan tidak ikut naik ke TK B. Proses ini kalau tidak salah berlangsung selama 3 bulanan.

Ia akhirnya bisa menikmati masa-masa sekolahnya. Sejak TK B hingga kelas 5 sekarang, Raka paling hobi sekolah. Stress dia kalau diminta untuk ijin sekolah untuk sebuah acara. Bahkan kalau ke sekolah harus 30 menit sebelum bel masuk. Kalau 15 menit sebelum bel masuk, itu masuk kategori sangat terlambat versi Raka. Its so not me!

Sempat sih 1 minggu mogok sekolah dengan alasan di bully temannya dan bosan sekolah. Tapi benar saja, setelah 1 minggu dia bosan ketemu si mama melulu dan akhirnya kembali memilih sekolah.

 Tips menghadapi anak yang suka memukul

Sebagai kesimpulan, berikut saya berbagi #5 tips menghadapi anak yang suka memukul berdasarkan pengalaman pribadi. Khususnya untuk anak usia 7 tahun ke bawah.

#1 Akui bahwa itu hal yang salah dan merupakan masalah yang perlu diselesaikan. Jangan mengabaikan seperti yang saya lakukan pada awal-awal.

#2 Kenali tanda-tanda anak yang tidak bahagia. Apakah ia sering ngompol? Mudah marah? Dan sejenisnya.

#3 Carilah akar masalahnya dengan mendiskusikan bersama orang terdekat mengenai si anak untuk bisa melihat masalah dengan lebih jernih. Bisa dengan ayahnya, kakek atau neneknya, guru, atau orang tua teman-teman anak kita.

#4 Usahakan memberi waktu khusus hanya berdua untuk anak. Mungkin ini terasa susah dan tidak mungkin. Tapi sebenarnya ini pasti bisa dan mungkin untuk dilakukan dengan meminta bantuan pada orang lain.

#5 Berdoalah. Memintalah pada-Nya untuk melunakkan hati dan tangan anak kita. Sekaligus meminta bantuan agar kita bisa membantu anak kita bisa menikmati masa kanak-kanak mereka dengan bahagia. Karena itulah yang utama…


Baca juga Belajar dari Raka, Menghadapi Anak yang Self-Centered


Bagaimana dengan teman-teman yang lain? Apa pernah punya pengalaman sedih anaknya di cap nakal oleh lingkungan? Bagaimana menghadapinya? Jangan ragu berbagi cerita di kolom komen ya.

Dan akhirnya semua berakhir bahagia... 


Selain tulisan Mak Eva di atas, baca juga tulisan teman-teman Kelompok Siti Nurbaya dalam #KEBloggingCollab di blog berikut untuk mengenai Topik trigger ke-4 Jangan sebut ia anak yang nakal.

Mendidik Anak Itu Nggak Mudah oleh Suciati Cristina

Lima Cara Bersikap Tegas pada Anak oleh Dyah Prameswarie





5 comments:

  1. Mak Teh Shanty...
    Banyak blajar dari tulisan ini
    Tidak semua orang bisa membalas atau merasa perlu membalas untuk menyakiti orang lain. Karena ia tahu itu terlalu menyakitkan untuk orang lain.
    Noted.
    Waktu itu....
    Cobaan aku rasain ketika anak aku jadi galak, ternyata dia suka dipukul temannya �� solusinya smentara waktu nggak main bareng dulu..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Biasanya anak-anak lebih cepat healingnya dibanding orang tua. Anak-anaknya sudah lupa, orang tuanya masih trauma.

      Delete
  2. Subhanallah ya, teh Shanty memilih untuk menganalisis penyebab dan membantu Raka agar berhenti memukul :) Semoga ibu-ibu lainnya aware dg hal ini agar tercipta lingkungan yg lebih baik

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya jadi kepikiran untuk buat satu tulisan lagi Ai. Tentang bagaimana kalau anak kita yang dipukul. Pernah ngalamin juga masalahnya.

      Delete
  3. Wah, thank you banget udah sharing mbak. Saya masih menghadapi anak sy yg suka marah dan suka mukul. Mungkin benar ya, dia lagi cari perhatian karena ada adik barunya. Mudah-mudahan bisa saya praktikkan.

    ReplyDelete

Powered by Blogger.