Catatan dari Pembelajaran Jarak Jauh Selama Masa Pandemi Covid 19

Jumat, April 10, 2020


Nggak terasa ya, sudah 4 minggu anak-anak mendekam di rumah karena wabah Covid 19. Bagaimana proses Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) anak-anak? Mulai menjengkelkan? Sudah bosan? Atau malah semakin menikmati?

Beberapa waktu lalu, sebagai orang tua, saya diminta mengisi survei mengenai PJJ untuk tingkat SMP yang dikeluarkan oleh Disdik Kota Bandung. Sepertinya semua orang tua diminta untuk mengisi kuesioner yang cukup panjang ini.

Intinya, mereka mau tahu apa anak-anak dan orang tua kesulitan mengikuti PJJ? Apa kendalanya? Bagaimana keluarga menemukan solusi dari masalah tersebut? Saya ragu, Disdik bisa mengambil kesimpulan dari kuesioner terbuka seperti itu dari ribuan orang tua.

Cerita PJJ anak SMP

Untuk Raka yang sekarang kelas 7 SMP, buatnya PJJ ini sangat nggak efektif. Karena hanya mengerjakan tugas-tugas saja tanpa ada guru yang menerangkan. Anak-anak hanya disuruh baca dan cari sendiri apa yang mereka tidak pahami.

Tugas berupa file dokumen, foto, atau video tinggal di upload ke dalam folder-folder di Google Dokumen berdasarkan mata pelajaran tertentu. Jadi nggak perlu japri ke WA guru masing-masing.

Saya ingat di hari pertama PJJ, rekomendasi mengenai Ruang Guru memang sudah beredar. Sepertinya pihak sekolah menyerahkan urusan menerangkan kepada pihak ketiga yang mungkin dinilai lebih ahli.

Setelah dapat akses gratis Ruang Guru dalam rangka #Belajardirumah, Raka akhirnya tergoda juga untuk langganan Ruang Guru. Katanya video pelajarannya lumayan bagus. Apalagi harganya juga lumayan miring untuk program 3 bulan.

Kemarin itu harganya Rp 135.000,-/3 bulan. Lumayan lah untuk sampai akhir masa tahun ajaran ini.

Jadi budget transportasi, bisa pindah ke biaya PJJ. Plus anaknya bisa belajar sambil tiduran dan ngemil-ngemil santai. What a dream come true.

Selain 5 pelajaran utama seperti Matematika, IPA, IPS, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris,  Ruang Guru juga menawarkan materi mengenai Hidup Sehat, Cerdas Berinternet, Beda Itu Keren, Pendidikan Karakter, dan Ruang Ngaji. Materi yang sangat dibutuhkan untuk anak-anak dan terasa cukup aplikatif.

Daftar pelajaran Ruang Guru untuk kelas VII 


Walau begitu, ada pelajaran yang tidak ada di Ruang Guru. Seperti Agama, PKN, Bahasa Sunda, PJOK, SBK, dan Prakarya. Ditambah lagi, rasa suasana kelas hilang. Sepertinya ini lumayan berpengaruh kalau buat anak-anak SMP yang memerlukan sosialisasi dengan teman-temannya.

Menurut saya, penting juga jika ada interaksi langsung dari guru dengan murid-murid sekelas dalam kondisi seperti sekarang. Sekedar untuk menanyakan kabar atau kendala yang dihadapi anak-anak. Mungkin di antara anak-anak juga ada yang kangen dengan teman sekelasnya.

Guru bisa memanfaatkan aplikasi Zoom atau Google Hangout untuk mengatur meeting kelasnya. Ini aplikasi yang tidak terlalu berat dan bisa diakses melalui Hp. Tidak harus punya laptop.

Tapi memang harus diakui tidak semua orang punya kemudahan akses kepada teknologi. Ada yang belum punya Hp sendiri, terbatasnya kuota, atau bahkan gaptek. Kendala memang bisa selalu ada saja.

Kendala yang lain yang saya rasakan adalah guru-guru yang sepertinya belum mampu atau tepatnya terlalu malas untuk belajar pengajaran baru jarak jauh. Sebenarnya banyak kemudahan yang ditawarkan untuk memudahkan PJJ.

Mungkin Diknas perlu membuat pelatihan daring singkat buat para guru yang kesulitan memahami teknologi baru ini. Kalau guru-guru muda, saya rasa mereka tidak akan terlalu kesulitan.

Jadi yang harus belajar itu bukan hanya muridnya, tapi juga gurunya. Bahkan orang tuanya juga. Ini saat yang tepat untuk semua belajar bareng di sela-sela kegiatan rebahan kita.

Raka lagi buat tugas video untuk pelajaran Matematika


Cerita PJJ anak SD

Kalau Sasya yang kelas 3 SD di sebuah SDIT (Sekolah Dasar islam Terpadu), bisa dibilang sekolahnya cukup antisipatif dengan pola PJJ ini.

Setiap hari, selain tugas dari sekolah, ada juga pembelajaran secara online dengan Zoom, Voice Note, atau Video Youtube. Gurunya masih mengajarkan secara langsung.

Bahkan tugas-tugas yang diberikan bisa dibilang cukup menarik dan interaktif. Bisa jadi ini faktor sekolah swasta yang diisi banyak guru-guru muda.



Dalam 1 hari, ada 3 tugas dari 3 pelajaran. Ditambah yang rutin adalah sholat Dhuha, Membaca Al Quran 1 halaman per hari dengan Zoom bersama gurunya, dan hapalan beberapa ayat surat pendek.

Waktu minggu-minggu awal, Sasya rajin bangun pagi, mandi, sarapan, dan langsung ‘masuk kelas’ untuk baca 1 halaman dan menghapalkan 1 ayat. Habis itu dia teriak manggil Mama buat ngetes. Tapi setelah 2 minggu, dia mulai malas-malasan untuk hapalannya. Sepertinya bosan.

Untuk 3 tugas pelajaran lain, sebenarnya deadline pengumpulannya adalah malam hari. Cuma, Sasya seringkali merasa belum mood untuk mengerjakan tugas pelajaran tertentu. Dia hanya mengerjakan tugas-tugas yang menurutnya menarik. Kebanyakan pelajaran sih, dia kerjakan sendiri dengan senang hati.

Tapi dia masih nggak suka sama matematika. Apalagi sekarang materinya terasa menyulitkan buat dia. Udah deh, bagian yang ini ditunda-tunda melulu ngerjainnya.

Nggak dipaksa ngerjain Mam?

Untuk urusan maksa ini, saya masih payah banget. Kadang-kadang ya marah kalau lagi pengen marah. Tapi lebih sering lupa untuk marah dan memilih membiarkan saja ia mengerjakan mana yang ia suka duluan. Sekalian saya mau lihat, mana yang benar-benar jadi minatnya. Mumpung tidak ada paksaan di sini.

Bagaimana dengan sistem penilaian?

Saya sejujurnya, nggak terlalu masalah dengan sistem penilaian. Silakan nilai saja sesuai standar sekolah. Kalau telat jadi nggak dinilai, ya sudah. Kalau jelek jadi nilainya kurang, ya nggak apa-apa.

Kebetulan memang sekolah Sasya adalah sekolah yang nggak pakai sistem rangking-rangkingan. Jadi nggak ada target harus juara atau dapat nilai tinggi.

Just do the best and have fun aja.

Sebagai orang tua saya bantu apa buat PJJ anak-anak?

Nggak bisa bantu banyak sih. Lah diriku bukan guru yang ngerti mengenai detail pelajaran sekolah yang kayanya rumit banget itu. Apalagi Matematika yang pakai sistem tertentu yang tidak umum. Ah sudahlah, Mama lambai bendera putih.

Paling saya mencoba membantu menerangkan sebisanya saja kalau benar-benar diperlukan. Atau membantu mencarikan referensi mengenai hal tersebut. Sisanya, mengandalkan semangat rasa ingin tahu anak saja.

Hal lain yang coba saya lakukan adalah membantu mengecek sejauh mana mereka belajar dan mengerjakan tugas di rumah. Untuk Sasya, saya buatkan buku catatan yang berisi tugas-tugas harian yang diberikan gurunya. Ada kolom untuk menandai mana tugas yang sudah selesai dikerjakan dan mana yang sudah terkirim. Sasya bisa melihat, mana tugas yang belum ia kerjakan.

Untuk Raka, dia sudah cukup mandiri untuk mengerjakan semua tugas harian yang diberikan. Saya paling tinggal ikut mengintip hasil laporan pengumpulan tugas mingguan yang diberikan wali kelasnya di grup kelas anak-anak. Jadi kelihatan kalau anak kita sudah ngumpulin tugas atau belum.

Buku tugas harian Sasya

Di masa SMP, orang tua sepertinya sudah nggak perlu terlalu ikut repot lagi mendampingi tugas anak-anak. Yeay....

Paling untuk minggu depan ini, saya baru berencana untuk memintanya membuat laporan harian mengenai video materi yang ia tonton di Ruang Guru. Cukup 1 pelajaran utama dan 1 pelajaran pendukung setiap hari. Ya...sekitar 1-2 jam sajalah sehari. Sisanya boleh belajar bebas. Btw, main game buat saya termasuk belajar juga loh.

Satu prinsip saya soal belajar adalah: Belajarlah hal yang benar-benar ingin dipelajari. Karena kalau nggak punya rasa ingin tahu untuk materi tertentu, belajar akan terasa sangat berat. Belajar itu adalah proses yang menyenangkan karena menjawab rasa ingin tahu kita.

Buat saya, ini prinsip dasar yang harus dimiliki oleh setiap anak. Selamat menemani anak-anak belajar di rumah teman-teman...

(1030 kata)


You Might Also Like

0 komentar

Ikuti di Facebook

Ikuti di Twitter

Kontak

Nama

Email *

Pesan *