Ketika Pesantren Naik Kelas dengan Program One Pesantren One Product (OPOP)

Sabtu, September 07, 2019


Selasa, 3 September 2019 kemarin saya benar-benar dibuat terharu!
Seneng deh lihat teman-teman dari 1074 pondok pesantren se-Jawa Barat memamerkan produk mereka di Hotel Ibis TSM Bandung. Nggak nyangka, ternyata banyak potensi-potensi yang bisa membuat sebuah pesantren berdaya secara ekonomi.

Jadi jangan nuduh kalau pesantren itu bisanya hanya belajar mengaji dan menadahkan tangan meminta sumbangan umat saja ya.

Apa itu Program OPOP?

Bagaimana ceritanya Pesantren bisa naik kelas begini?
Semua bermula dari program Pesantren Juara yang dicanangkan Kang Emil sejak terpilih menjadi Gubernur Jawa Barat setahun yang lalu. Dari 17 program juara, salah satunya adalah One Pesantren One Product.

Kok harus pakai istilah bahasa Inggris gitu sih?

Karena memang kepengennya pesantren Jawa Barat itu bisa go global dan dikenal orang di manca negara. Jumlah pesantren di Jawa Barat itu paling banyak dibanding provinsi lain di Indonesia.

Menurut data kementrian agama 2014/2015 jumlahnya mencapai 9000 pondok pesantren loh. Benar-benar sebuah potensi yang luar biasa jika benar-benar diberdayakan. Pesantren yang terletak di daerah

Dalam sambutannya pada acara Penyerahan Hadiah bagi 1074 pesantren yang lolos audisi tahap 1, Kang Emil menyampaikan bahwa ide OPOP atau One Pesantren One Product ini hadir karena pengalaman beliau dan Pak Uu Ruzhanul Ulum, Wakil Gubernur selama menjadi santri di pesantren.

Beliau berharap saat mendapatkan kesempatan, bisa membantu membuat pesantren mampu mandiri secara ekonomi.

Potensi pesantren itu sebenarnya cukup besar. Mereka memiliki banyak santri yang bisa diberdayakan. Tinggal dipoles sedikit dengan memperluas wawasan bisnis dan membuka pasar, bisa moncer nih pesantren-pesantren di Jawa Barat.

Asli keren-keren banget program Pemprov Jawa Barat ini


Selama 2 hari pada 2-3 September 2019, 1074 orang mewakili pesantren yang lolos seleksi tahap 1 dijamu di Hotel Ibis TSM Bandung. Selain kesempatan memamerkan produk, mereka juga mendapatkan kesempatan mendapatkan pembekalan untuk magang di 5 pesantren yang telah dinilai sukses.

Kelima pesantren itu adalah Pesantrennya A’a Gym Darut Tauhid di Bandung, Pesantren Al Ittifaq di Ciwidey yang terkenal sebagai pemasok sayuran ke sejumlah supermarket, Pesantren Nurul Iman di Bogor yang memiliki hingga 15 ribu santri, Pesantren Khusnul Khotimah Kuningan, dan Pesantren Al Idrisiyah Tasikmalaya.

Duh ya, kerasa bangga ya jadi santri kalau pesantrennya keren-keren begitu.

Menurut Kang Emil, pertumbuhan ekonomi 5,7% di Jawa Barat cukup kondusif saat ini. Beberapa negara besar lain, bahkan angkanya dibawah 5%. Dalam bahasa sederhananya, pertumbuhan ekonomi di atas 5% itu artinya kemampuan daya beli masyarakat cukup baik. Banyak orang yang mampu beli barang. Banyak orang yang bisa pergi umroh.

Atau kalau versi saya sih, Pasar Baru masih selalu ramai ibu-ibu beli kerudung baru.

Harapannya pertumbuhan ekonomi ini jangan hanya dinikmati segelintir orang. Jangan hanya pemilik perusahaan besar saja yang mengambil keuntungan. Tapi semestinya berprinsip Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Yang kaya boleh makin kaya, tapi yang miskin kudu kebawa-bawa. - Kang Emil

Jawa barat ini juga penduduknya hampir 50 juta. Dimana 40 juta diantaranya beragama Islam. Walau APDB Jawa Barat sekitar 40 trillun dengan anak yang sangat banyak (jika dibandingkan dengan DKI Jakarta), diharapkan hasilnya bisa dirasakan optimal bagi seluruh masyarakat.

Program OPOP ini sendiri anggarannya mencapai 100 milyar menurut informasi dari Kepala Dinas Koperasi dan Usaha Kecil Jawa Barat.

Apa hadiahnya bagi pesantren yang lolos seleksi OPOP?

Jadi ya, selain sekedar dijamu di hotel Ibis selama 2 hari, ternyata para perwakilan pesantren ini mendapatkan serangkaian hadiah yang sangat bermutu.

Apa saja tuh?

Mulai dari pelatihan dan magang. Untuk kegiatan ini ada 2 tipe. Yang pertama adalah tipe start up berupa pelatihan 3 hari bagi pesantren yang baru memiliki ide bisnis dan belum punya produk. Dan yang kedua adalah tipe scale up berupa pelatihan 7 hari bagi pesantren yang sudah memiliki produk. Pelatihan scale up ini dilaksanakan di 5 pesantren unggulan berdasarkan bidangnya masing-masing.

Hadiah yang lain adalah bentuk pendampingan usaha, temu usaha dengan pengusaha, bantuan modal penguatan modal usaha, hingga promosi usaha dalam bentuk pameran.

Alhamdulillah banget ya. Sungguh beruntung pesantren yang bisa lolos seleksi.

Targetnya, OPOP bisa diikuti oleh lebih banyak pesantren di Jawa Barat.

Salah satu peserta yang lolos tahap 1 OPOP dengan produk Eggroll-nya yang enak.

Bagaimana caranya ingin ikut OPOP?

Program ini rencananya akan diselenggarakan rutin setiap tahun. Untuk yang tahun 2019, seleksi dibuka secara online pada bulan Maret-April 2019. Semua pesantren di Jawa Barat bisa mendaftarkan produk atau ide bisnis dari pesantrennya secara online di website OPOP.

Untuk informasi, jangan lupa memantau sosial media OPOP di Instagram  dan Twitter.

Bidang usaha apa saja yang boleh didaftarkan?

Boleh apa saja kok. Bisa jasa/layanan, makanan/minuman, fashion, kerajinan tangan, pertanian, perikanan, otomotif, perternakan, dan lain-lain.

Jadi yang dicari adalah produk-produk yang tidak terlalu pasaran, punya keunikan, dan punya potensi pasar yang bisa tembus ke luar negeri.

Jadi bagaimana? Berminat mendaftarkan pesantrenmu untuk ikut program OPOP?

Acara penyerahan hadiah OPOP secara simbolis di Trans Convention Center (sumber foto: Tribunnews)



You Might Also Like

0 komentar

Follow Me on Facebook

Follow Me on Twitter

Contact Me

Nama

Email *

Pesan *