Mengapa Saya Merasa Perlu Memiliki Blog Berbayar

Rabu, Maret 21, 2018
Banyak teman-teman yang sepertinya masih mikir apakah perlu memiliki blog berbayar atau cukup dengan blog gratisan saja. Apa sih pentingnya perlu mengeluarkan uang untuk sebuah blog jika bisa gratis? Emak-emak kan paling suka yang gratis dan bermutu. Kalau bisa gratis kenapa juga harus bayar? Yang setuju ngacung.
Untuk teman-teman yang masih bingung soal ini, saya mau berbagi sedikit pengalaman mengenai blog berbayar ini. Saya sendiri pertama kali ngeblog agak mulai serius di tahun 2016. Saat itu saya memilih platform Blogspot. Alasannya karena kata adik saya, Blogspot itu mobile friendly, sedangkan Wordpress nggak. Saya yang naif ini percaya saja. Kalau sekarang keduanya sudah mobile friendly, sehingga nyaman dibuka di smartphone.
Yang kepo tentang blog pertama  itu bisa main ke blog Shanty Belajar Menulis.
Di tahun 2017, saya baru mulai kenalan sama yang namanya komunitas blogger. Ada Blogger Bandung, Kumpulan Emak Blogger, dan Blogger Perempuan. Ada banyak acara di komunitas blogger yang ternyata diperuntukkan bagi orang-orang yang memiliki blog berbayar. Ada syarat nilai DA/PA jika ingin mengikuti acara tertentu. Jadi kalau masih di blog gratisan, nilai DA/PA-nya tidak bisa diperhitungkan. Maklum masih numpang di rumah platform utamanya baik Wordpress maupun Blogspot.
Mulai terasa nih ada kasta yang memisahkan blog berbayar dan blog gratisan. Dari situ deh saya mulai kepengen punya blog berbayar.
Sekitar 2 bulan sebelum memutuskan punya blog berbayar, sayangnya saya sempat buat blog baru di Wordpress.
Jadi ini nih bedanya Blogspot dan Wordpress. Sumber: https://howtomakemyblog.com/blogger-vs-wordpress/

Kenapa pindah dari Blogspot ke Wordpress?

Karena waktu itu saya sempat bingung mengenai cara membuat menu di Blogspot. Terus ada yang ngajarin buat menu blog di Wordpress dengan sangat mudah. Wah langsung deh ketagihan dan selingkuh dengan Wordpress yang memang tampilannya sangat segar dan cantik.
Saat memutuskan naik kasta menjadi blog berbayar, saya baru tahu kalau untuk Wordpress kita harus berpindah platform dari Wordpress.com ke Wordpress.org. Banyak yang merekomendasikan sebaiknya kalau pindah itu mulai saja dari nol postingannya. Karena statistik tulisan lama tidak bisa ikut berpindah dari Wordpress.com ke Wordpress.org. Misalnya di Wordpress.com, views kita sudah 1000, di Wordpress.org akan menjadi nol lagi.
Berat hati sih sebenarnya melepaskan statistik yang sebenarnya memang masih seupil itu. Tapi mau bagaimana lagi. Akhirnya saya boyongan semua post dari rumah lama di shantystory.wordpress.com ke rumah baru di shantystory.com. Sekarang blog yang terakhir ini sudah almarhum. Rencananya nanti tulisan dari sana akan dipindahkan ke tempat baru yang lebih layak.
Biayanya sekitar Rp 150 ribu untuk domain, Rp 150 ribu untuk webhosting, dan Rp 300 ribu untuk jasa teman yang membantu boyongan. Habis saya bingung bagaimana caranya memindahkan post lama ke post baru. Saya membeli domain ini di IDwebhost.
Seneng sih dengan tampilan rumah baru yang memang lebih bling-bling. Templatenya juga cantik-cantik. Saya merasa statistik blog makin bagus aja di rumah baru itu. Entah pengaruh karena blog berbayar, atau memang tulisan saya saja yang beneran bagus. Yang pasti kayanya bukan tulisan saya jadi bagus karena blognya berbayar. Itu mah nggak mungkin ada hubungannya. Kecuali kalau bisa jamin jadi lebih rajin ngeblog dibanding sebelumnya punya blog berbayar.
Tapi sayangnya kebahagiaan saya tidak berlangsung lama. Masa-masa bulan madu pun berlalu. Si blog mulai keluar aslinya dan merongrong. Mulai ngadat ini itu lah. Minta beli ini dan itu lah.
Belum ada 1 tahun, kapasitasnya yang terbatas minta ditambah. Saya juga baru tahu ternyata kapasitas 500MB itu sangat kecil untuk sebuah blog. Untuk menambah jadi 1G, biayanya sekitar Rp 300 ribu.
Jadi setiap tahun saya harus membayar biaya kapasitas yang terus meningkat dari tahun ke tahun. Wajar lah, kan postingannya juga bertambah. Tahun pertama tambah jadi 1G, tahun depannya mungkin perlu 2G, dan seterusnya. Selain biaya kapasitas, ada juga yang namanya biaya webhosting yang harus diperpanjang setiap tahun. Kalau bertanya ke teman-teman yang pakai Wordpress, ada yang mencapai hampir 1 juta per tahun.
Tapi memang sih, rata-rata tidak ada yang mengeluh dan merasa puas dengan layanan Wordpress.org ini. Ada uang, ada barang. Apalagi bagi mereka yang mampu mendapatkan pendapatan berkali-kali lipat dari biaya yang perlu dikeluarkan. Cincai lah 10-20% dari pendapatan tahunan untuk biaya seperti ini.
Masalahnya, diriku belum punya penghasilan yang cukup untuk membiayai sebesar itu. Akhirnya tanya kiri-kanan, ternyata kalau Blogspot itu murah meriah. Cukup biaya perpanjangan domain Rp 100-an per tahun. Apalagi setelah melihat banyak blog yang saya nilai sangat bagus, cukup dengan Blogspot saja. Memang sih, tampilannya nggak terlalu semenor Wordpress, tapi cukup manis dalam kesederhanaannya. Apalagi begitu sholehah karena tidak boros.
Dan saya pun bertobat, untuk kembali setia kepada Blogspot. Fokus saya pada merapikan kualitas tulisan dulu, bukan di tampilannya. Maka, saya pun memutuskan membuat blog baru di Blogspot. Untuk tidak mengulang kesalahan yang sama repot pindahan barang post lama ke blog baru, saya memilih memulai blog baru dari nol saja. Tidak bawa apa-apa, cukup baju di badan saja. Apaan sih Shan…
Sebelumnya saya juga belajar dari teman saya, Monika Puri Oktora yang ternyata proses migrasinya dari Wordpress gratisan ke Wordpress berbayar berlangsung mulus. Nggak pake ribet dan statistiknya tidak hilang. Semuanya karena membeli langsung dari Wordpressnya. Tidak melalui perusahaan jasa webhosting. Pengalaman Monika pindahan, bisa dibaca di postingan ini Monikaoktora.com.
Jadi ini perbandingan antara Wordpress.org, Wordpress.com gratisan, dan Wordpress.com berbayar. Sumber: https://tarjiem.com/blogspot-wordpress/

Perbandingannya bisa dilihat di sini:
Jadi singkat kata, daripada membeli domain melalui jasa webhosting, saya memilih membeli langsung dari Blogspot.
Berikut langkah-langkah sederhana membeli domain langsung dari Blogspot:
1. Dibagian Dashboard, masuk ke bagian Setting --> Basic --> Publishing. Di situ ada pilihan buy domain.

2. Pilih harga yang sesuai. Untuk dot com, biayanya Rp 160 ribuan/tahun. Kalau Ok, kita tinggal klik buy, dan mengisi form informasi dengan nomor kartu kredit. Memang harus pakai kartu kredit sih.
3. Setelah itu kita akan dapat e-mail konfirmasi yang tinggal di klik, untuk mengaktifkan domain. Sesederhana itu.
Kalau membeli melalui jasa perusahaan webhosting Indonesia, harganya bisa lebih murah. Sekitar Rp 100 ribu hingga Rp 130 ribuan lah. Nanti ada langkah-langkahnya untuk memasangnya di blog. Saya sih lagi malas mikir aja untuk baca langkah-langkah, jadi ya sudah lah nerima saja Rp 30 ribu lebih mahal. #horangkaya
Jadi kesimpulannya, alasan saya ber-TLD memang lebih ke menaikkan kasta di mata para blogger saja. Masa iya sih, nggak bisa modal sekitar belasan ribu per bulan aja demi sebuah hobi yang sangat mungkin menghasilkan segenggam berlian? Masa mau mancing Kakap dengan ikan Teri? (Eh emang mancing Kakap mestinya pakai apa ya?)
Tapi kalau belum mau ber-TLD juga nggak apa-apa kok. Contohnya saja Diana Rikasari yang betah dengan Blogspot gratisannya di dianarikasari.blogspot.co.id. Diana rajin banget posting rutin sejak tahun 2007 hingga saat ini di blognya itu. Nggak akan ada yang berani bilang kastanya lebih rendah, lah wong follower IG-nya mencapai 223 ribu gitu loh. Jadi sebenarnya, semua kembali ke kebutuhan dan keimanan masing-masing.

Bagaimana teman-teman yang belum ber-TLD? Apa tertarik juga untuk segera memiliki blog berbayar?   

7 komentar:

  1. Teh san makasih ni infonya. Dari kemarin ingin buat blog berbayar. Berarti ini sama saja bikin blog baru ya teh, bukan lanjutin blog kita yang lama hanya ganti nama saja?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mau lanjutin yang lama juga bisa Nurul. Nggak ada masalah sebenarnya. Apalagi yang belinya langsung di blogspot atau wordpressnya. Seperti yang kasusnya Monika itu.

      Hapus
  2. Soal kapasitas hosting wordpress, biasanya yg ngabisin space itu foto2. Ada yg ngeblog tp ga merhatiin ukuran foto, langsung upload gitu aja, padahal ukuran 1 foto bisa beberapa MB.

    Saya sekarang cuma punya hosting dengan kapasitas 1.5 GB. Sadar diri kapasitas terbatas, jadi saya selalu resize ukuran foto, diusahain ga lebih dr 200 kB/foto.

    Pernah baca blog mbak Shintaries, sebenarnya bisa diakali dengan pakai CDN, jadi semua foto ditaruh di sana, bukan di hosting kita. Tapi tampak ribet setup-nya, belum eksplor lagi, hehe. Sementara bertahan dg memperkecil ukuran foto, sejauh ini baru kepake 300an MB.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, saya juga waktu pertama-tama itu pakai image mentah yang besarnya bisa 1MB Reisha. Setelah tahu baru rajin dikecilin sampai di 100-an KB saja. Mulai irit-irit. Mahal masalahnya.

      Hapus
  3. Sepakat sama bu Shanty, saya juga baru mencoba pakai blogspot yg sholehah karena g boros. Kemarin pertama beli domain hanya keluar uang 160rb untuk tahunnya.

    BalasHapus
  4. Aku masih setia pakai blog gratisan mbak.. sekarang fokusnya belajar nulis dulu.. hehe.

    FYI, dulu suamiku sempet beli domain dari blogger juga. Murah..cuma $10. Tapi setaun kemudian, dia lupa perpanjang dan domainnya berubah lagi ke blogspot.com. Kalau mau dapetin domain yang lama, biayanya jadi $100/tahun, 10x lipat!

    Moral of the story, jangan lupa perpanjang tepat waktu...hehe.

    BalasHapus
  5. Tulisannya keren dan lengkap banget, Mbak, dan jadi jelas perbedaan wordpress dan Blogspot. Aku dulunya ya di blogspot gratisan karena ngeblog cuma buat iseng doang. Baru tahun lalu niat ngeblog rajin dan Peweku nyaranin pake wordpress. Katanya sih lebih enak diutak-atik. Tapi tetap aja sampai sekarang masalah utak-atik aku blm paham hehehe..

    BalasHapus

Diberdayakan oleh Blogger.