Kulwap Menulis bersama IIP Tangsel

by - October 27, 2017



Hari ini saya berkesempatan berbagi cerita dengan teman-teman di IIP Tangerang Selatan mengenai menulis. Inilah serunya di IIP, walau kata ilmu kita secuil, tapi selalu ada teman-teman yang bersedia membuat secuil itu terasa begitu berarti. 

Sekarang ada trend di Kulwap IIP dengan membuka grup menjadi beberapa grup untuk menampung peserta lebih banyak dan terbuka untuk teman-teman dari kota lain. Bener juga sih, materi jadi bisa dinikmati oleh lebih banyak orang. Seperti dalam Kulwap ini, ada 2 grup. Grup yang pertama diisi oleh 169 teman-teman IIP Tangsel dan grup umum yang diisi oleh 256 orang. Kebayangkan ada 400 ibu-ibu sedang serius menyimak materi sambil dasteran dan memasak di dapur sore ini.

Sebagai pengantar saya memberikan materi tulisan yang pernah saya posting dengan judul Menulis untuk Kesehatan. 

Dari materi tersebut lahirlah sejumlah pertanyaan berikut:



Q 1 : Mega - Jakarta. 
Bagaimana mengatur waktu menulis rutin disela kesibukan kerja dan keluarga? Bagaimana menjaga konsistensi menulis terus-terusan biarpun saat nggak mood?

A : I feel you Mega. Sebagai anak #ODOPfor99days yang duduk di bangku festival alias menulisnya belum konsisten-konsisten amat, saya juga masih selalu menanyakan hal yang sama sama orang lain yang lebih konsisten menulisnya. Sampai hari ini saya belum punya waktu menulis rutin yang tetap. Saya menulis hanya kalau saya sempat menulis. Kalau soal menulis saya sebenarnya nggak pernah nggak mood. Ini bahan banyak sekali di kepala. Cuma waktunya yang masih perlu diatur.

Buat saya menulis itu ada beberapa jenis:
1. Menulis untuk postingan di blog. Ini harus serius karena akan dibaca banyak orang. Saya memerlukan waktu banyak untuk membuat outline, mengumpulkan data, menyiapkan image pendukung, meramu kalimat sampai membaginya kemana-mana. Sampai hari ini, saya masih belum terlalu mahir untuk bisa menyiapkan hal ini dengan cepat. Biasanya proses ini kalau buat saya memakan waktu sampai 3-5 jam. Terkadang bahkan seharian.  Makanya outputnya jadi jarang-jarang.

2. Menulis curahan hati. Ini tulisan ngacak kalau lagi stress karena banyak kerjaan. Bukannya kerja, saya malah nulis corat-coret. Segala isi hati dikeluarkan. Jelas bukan untuk konsumsi publik. Berantakan lah lihatnya juga. Ini selalu bisa dilakukan kapan saja saat pikiran suntuk.

3. Menulis latihan. Ini hampir selalu sepanjang sehari saya lakukan. Buat saya latihan menulis itu cukup dengan chat di grup WA atau buat status di FB. Saya kalau nulis chat suka panjang-panjang dan utuh. Di situ saya belajar mengungkapkan pendapat, belajar tata bahasa, belajar nggak typo kalau menulis. Ini modal penting untuk bisa buat postingan panjang.
Jadi selama arti menulis didefinisikan kembali, kayanya kita semua bisa menulis kapan saja.


Q 2 : Ratna - Bandung. 
Saya tertarik dan mulai ikut kelas-kelas menulis online salah satu alasannya  adalah sebagai terapi untuk release stress. Saya merasa sangat terbantu. Tapi ketika masalah saya datang lagi, saya buntu banget, baik ide atau pengembangan tulisan, sampai gak bisa menulis lagi. Bagaimana cara mengatasi ini, agar saya bisa produktif menulis dan menunjukkan kemajuan belajar saya juga release therapy tetap jalan?

A : Kalau buat saya menulis untuk melepas stress dengan menulis untuk publik itu berbeda, Ratna. Dalam penelitiannya Om Pennebaker di tulisan saya sebelumnya, menulis untuk melepas stress itu adalah menulis bebas tanpa perlu memperhatikan tata bahasa, tanda baca, dan lain-lain. Benar-benar bebas mengekspresikan emosi. Paragraf pertama ngobrol soal apa, paragrap selanjutnya soal yang lain lagi. Pilihan kata berantakan juga nggak masalah. Ini baru namanya tulisan melepas stress.

Kalau tulisan postingan untuk publik, itu kan ada batasannya. Bukan itu jenis tulisan untuk melepas stress. Kecuali kalau kita sudah level mastah. Kalau masih pemula, ada juga malah stress dengan batasan menulis yang harus enak dibaca oleh orang lain.

Saran saya sih, mulai saja dulu dengan tulisan bebas untuk melepas stress. Nggak usah harus dipaksakan untuk dipamer ke publik dalam blog dulu. Cukup menulis terapi dalam buku tulis yang disimpan di bawah bantal saja. Nanti kalau hati mulai agak enak, biasanya ada ide-ide brilian yang bisa kita sarikan dari tulisan acak-acakan itu. Dalam 1 minggu nulis stress 6 kali, dapat 1 tulisan pendek 500 kata yang manis, itu sudah bagus.


Q 3 : Rina Yuliani - Tangsel.  
Agar konsisten dalam menulis itu caranya bagaimana? Untuk pemula sebaiknya sehari menulis berapa banyak ?

A : Prinsipnya menulislah kalau merasa butuh menulis Rina. Nggak usah terlalu dipaksakan harus menulis. Kalau memang lagi nggak perlu menulis ya tidak perlu menulis. Rasa nyaman menulis itu yang kita cari. Rasa nyaman itu yang bisa bikin kita konsisten menulis. Sambil coba di cek, tidak suka menulisnya yang bagaimana? Kalau menulis status atau mengomentari postingan orang lain masih suka nggak? Kalau suka, itu bagus. Coba mulai dari situ. Belajar mengungkapkan pendapat dari situ.

Awalnya cuma mau bilang tulisan kamu bagus. Coba ditambah dengan kalimat lain seperti kenapa saya suka tulisan itu, apa yang membuat tulisan itu menarik, dan lain-lain. Sehari belajar 2-5 kalimat itu lumayan loh. Chat di grup WA atau sosmed lainnya bisa jadi ajang belajar menulis yang asyik.


Q 4 : Nurul - Tangsel.  
Saya sebenernya suka menulis. Tapi untuk menulis saya butuh waktu yang lama sampai cerita beres. Saya rasa mungkin itu karena tulisan saya sering berputar-putar. Hingga akhirnya jarang tulisan saya bisa di closing dengan memuaskan (menurut saya) karena pasti ada pekerjaan lain yang harus saya lakukan jadi menulisnya harus ditunda dulu. Saya juga tidak puas dengan closing yang tidak sempurna karena rasanya cerita saya belum bisa disampaikan & dimengerti dengan baik. Jadi akhirnya saya selalu menunda keinginan untuk menulis. Adakah cara supaya saya bisa menuangkan tulisan saya dengan (waktu yang) cepat & tidak berputar-putar?

A : Masalah yang sama Nurul. Saya juga mengalami itu. Berdasarkan hasil nanya-nanya ke yang lebih senior, kesimpulan saya jawabannya ada di latihan yang lebih sering dan rutin saja. Ada teman yang menyarankan menggunakan outline agar menulis lebih efisien. Itu bisa saja. Kita harus mengenali gaya menulis kita sendiri sih. Tiap orang beda-beda. Semakin sering berlatih, nanti akan semakin ketemu selanya. Selama latihannya masih senin-kamis, ya nggak akan ketemu-ketemu solusinya.


Q 5 : (No Name) - 
Sejujurnya saya suka menulis, tapi saya merasa tulisan saya biasa sekali, ada maksud, tujuan serta isi dari tulisan itu, tapi saya merasa tidak mampu merangkai menjadi sebuah kalimat indah, sehingga merasa tidak PD dengan tulisan saya sendiri.

1. Bagaimana langkah-langkah menuangkan pikiran kedalam tulisan untuk menjadi karya yang indah dan layak baca, karena saya merasa lebih bisa berbicara langsung daripada menuangkan kedalam tulisan.

2. Apakah benar adanya, ada orang yang bisa jadi pembicara tapi tidak expert dalam menulis, begitu juga sebaliknya, pintar mengekspresikan sesuatu kedalam tulisan namun tidak Percaya diri berbicara di muka umum.

3. Bagaimana kita bisa tahu, dan mampu mencocokan dalam menulis sesuatu dengan pola pikir dan perilaku sehari-hari? (contohnya, orang lucu dan senang bercanda ada kemungkinan jago menulis cerita lucu)

A :
1. Cukup dilatih aja dengan lebih sering. Dimulai dari yang pendek-pendek seperti status sosial media atau chatingan ringan. Belajar mengungkapkan maksud dengan kalimat yang bagus dan utuh. Kemampuan bicara langsungnya juga penting untuk terus dikembangkan. Semakin banyak kemampuan kita bisa mengkomunikasikan isi kepala kepada orang lain, itu semakin membuat kita nyaman. Kita bisa bicara, menulis, menggambar, main musik, menari, dan lain-lain. Ini semua tujuannya untuk berkomunikasi dengan orang lain.

2. Saya lebih banyak menemukan orang yang expert dalam semua cara berkomunikasi. Ya pintar bicara, ya pintar menulis. Rata-rata penulis terkenal yang saya tahu, punya kemampuan bicara yang cukup bagus. Menurut saya ini sebenarnya satu kesatuan sih. Selama mereka mengkomunikasikan hal yang sama. Misalnya penulis buku, pintar sekali bicara tentang bukunya. Tapi nggak bisa kalau disuruh bicara tentang hal yang lain. Begitu juga kalau sebaliknya. Orang yang jago bicara, biasanya pintar menulis hal yang dia sukai. Tapi belum tentu mampu menulis hal yang lain.

3. Nggak tahu juga ya kalau soal ini. Belum punya pengalaman soal ini.

  
Q 6 : Lusi  - Bandung. 
Menulis sebagai bentuk ungkapan hati yang bisa menghilangkan stress,
1. Menulis yang efektif untuk menghilangkan stress seperti apa?
2. Kapan waktu yang efektif untuk menulis? On Paper On media?
3. Setiap orang punya kemampuan yang berbeda dalam menulis, bagaimana cara menggali potensi menulisnya?

A :
1. Menulis bebas dengan cepat dan tanpa harus memperhatikan tata kalimat, tanda baca, dan sejenisnya.

2. Kapannya tergantung kebiasaan masing-masing. Sangat personal. Kalau saya sih kalau pas bangun tidur. Sudah lama sekali saya nggak terbangun karena weker, tapi karena ada ide yang pengen di tulis. Kalau untuk terapi stress saya lebih suka menulis dengan polpen dan kertas. Kalau untuk postingan di blog, saya lebih suka langsung di laptop atau di notes HP. Berdasarkan pengalaman, sebenarnya sama aja sih semuanya. Cari-cari aja mana yang cocok.

3.  Saya nggak tahu juga Lus. Saya nggak pernah merasa menggali potensi menulis. Menulis karena lagi suka dan sempat aja. Mungkin karena itu juga, makanya belum jadi penulis beneran ya. Ha…ha…


Q 7 : Vivi - Jurangmangu Barat, Tangsel. 
Saya terkadang merasa malu kalau tulisan atas curhat dan kisah hidup saya di baca orang, padahal sangat ingin saya tuangkan semua perasaan.
- Bagaimana cara mengatasinya?
- Pada media apa sebaiknya saya tuliskan?
- Apakah tulisan itu lebih baik dipendam sendiri, atau biarkan orang-orang membacanya untuk lebih menambah rasa percaya diri saya?

A :
Kalau ini sih balik kenyamannya Vivi aja. Nyaman nggak kalau curhatannya dibaca orang lain? Apakah ada rasa bahagia ketika membuat tulisan yang bisa dibagikan kepada banyak orang dan hal itu bisa bermanfaat buat mereka? Saya juga sering bertanya ke teman-teman yang saya lihat sering menulis masalah hidupnya yang kelam banget. Kok nggak malu atau takut ya? Ternyata sebagian besar alasan mereka adalah agar orang lain bisa belajar dari pengalaman mereka itu. Dan semangat itu memang jadi terasa kental dalam tulisan mereka.

Tapi kalau kita merasa tulisan kita cuma tulisan curhatan nggak penting, ya mending nggak usah dibagikan. Kalau rajin, mungkin bisa kita kemas dalam fiksi singkat. Buat yang mau belajar fiksi singkat, bisa belajar sama Carolina Ratri di Workshop online #ODOPfor99days yang akan kami adakan besok. #IklanSponsor


Hadiah buku Me Time untuk Vivi sebagai penanya terbaik  karena pertanyaannya tidak banyak typo dan salah ketiknya.


Q 8 : Mey Anza -  IIP Bogor. 
Ketika dalam benak kita sudah terbayang sebuah cerita atau pengalaman masa lalu yang masih ingin ditulis. Namun terkadang untuk memulai kalimat awalnya saya masih merasa kebingungan. Yang ingin saya tanyakan, langkah awal apa yang harus saya tuangkan dalam tulisan agar bisa menulis dengan mengalir dan memecah kebingungan?

A :
Kata para mastah sih kudu banyak membaca. Jadi kita punya banyak perbendaharaan kata untuk mendeskripsikan sesuatu.


Q 9: Romiyatul Islam - Tangsel. 
Alhamdulillah... saya termasuk orang yang suka nulis apa yang saya rasakan. Dulu sebelum menikah saya suka nulis apa-apa yang terjadi dalam setiap perjalanan saya semasa kuliah. Saya suka ambil hikmah-hikmah. 

Nah semenjak punya anak kadang moody, terlebih suka rebutan hp sama anak pertama. Jadilah hilang hasrat menulis. Karena saya suka nulisnya di notes hape. Nah bagaimana mba untuk mempertahankan mood menulis dalam kondisi sulit ?

Terus bagaimana pengalaman berbagi waktu menulis dengan PR rumah tangga dan anak-anak. Karena buat saya menulis itu enak banget kalau pas dengan timingnya atau kejadian yang baru dialami.. jadi masih fresh di otak, kata demi kata ngalirr, sementara kalo ditunda.. hmm lupa-lupa gimana gitu..

A :
Menulis itu buat saya ungkapan keinginan mengkomunikasikan sesuatu. Saya nonton film, saya ingin menulis. Saya datang ke acara seminar, itu juga pengen saya tulis. Saya baca buku, bawaannya pengen pamer isinya. Mood menulis datangnya dari situ. Masalah kapan sempat menulisnya itu urusan lain.

Kejadiannya saya bisa sangat stress kalau sampai tidak bisa menulis. Terlalu banyak isi kepala dan bikin berat kalau tidak ditulis. Entah itu hasilnya pantas di posting atau tidak. Pokoknya sekedar corat-coret saja dulu. Makanya saya punya selusin notes kecil buat corat-coret saja.

Karena belum bisa bagi waktu, ya kalau saya menulis, berarti rumah hari itu rada berantakan. Anak-anak makannya beli jadi saja atau suruh buat sendiri. Kalau saya urus rumah, berarti nulisnya seadanya saja. Gitu aja sih. Saya mah orangnya pemaaf sama diri sendiri. Makanya belum kesampaian aja jadi penulis beneran. Ha…ha….


Q 10:  Novia Mutia B - Jaksel
1. Untuk pemula perlu meluangkan waktu khusus kah untuk menulis
2. Baiknya menulis yang seperti apa untuk pemula (bahasa,tanda baca, ide,dll) apa boleh curhat?
3. Apa perlu buku ato notes khusus?
4. Saya punya kebiasaan gak sengaja nyusun kata2 yang bagus buat diposting di medsos ato chat, saat dipikir udah berasa bagus eh pas nulis buat di posting jadi lupa beberapa dan jadinya sering tidak seperti yang dimaksud dan kadang malah jadi blank. Jadi bagaimana solusinya biar bisa nyimpan ide-ide yang mendadak.

A :
1. Prinsipnya menulis karena benar-benar merasa butuh menulis. Kalau lagi nggak ngerasa perlu ya tidak usah. Kebutuhan untuk menulis biasanya muncul karena kita banyak membaca dan banyak masukan yang dilihat.

2. Menulis apa saja yang paling kita suka. Kita sukanya fashion, ya nulis tentang fashion yang kita suka. Kita sukanya makanan, ya tulis tentang makanan. Kita sukanya politik, ya tulis tentang itu.

3. Perlu notes lah.

4. Harus langsung ditulis. Bisa di notes hp, di rekam, di notes biasa, atau di mana saja. Kalau nggak disampaikan aja langsung secara lisan ke orang di dekat kita. Itu lumayan membantu daya ingat. Saya biasanya kalau pulang acara suka bercerita ke suami mengenai acara tersebut. Ini dalam rangka mengingat juga.


Q 11: Aulia. 
"Karena bisa dianggap tidak mampu mengidentifikasi dan mengakui emosi." Jika sikon seseorang memang seperti itu, bagaimana cara menuliskan pengalaman traumatik. Karena jujur, terkadang untuk menulis hal-hal traumatik membuat saya jadi mengingat hal-hal yang ingin saya lupakan itu. Dan bagaimana dengan orang yang sangat tertutup?

Terkadang jangankan untuk berbicara, mengeluarkan semua emosi. Untuk menulis saja kadang bingung mo mulai darimana? Sekalipun "dipaksa" untuk menulis, yang keluar justru yg negatif-negatif.. Apa itu tetap bisa dijadikan terapi menghilangkan stress?
Karena kadang orang justru lebih bisa menulis untuk di share ke publik, daripada untuk diri sendiri.

A :
Kalau menurut saya senyamannya saja. Jangan dipaksakan juga. Nanti akan tiba juga waktunya untuk bisa menerima dan terbuka. Ada model menulis yang nanti tulisannya dibakar saja. Ada rasa lega setelah tulisan itu dihilangkan, seperti masalahnya juga ikut hilang.


Q 12 : Yuniar - Tangsel. 
Boleh dibagi mba cara-cara konkretnya, dari hasil pengalaman pribadi. Bagaimana untuk tetep bisa produktif menulis, menemukan ide, dan mengembangkannya sampe dalam sebuah buku dengan bahasan yang panjang. Satu sisi, peran sebagai ibu rumah tangga, orang tua, dan juga istri, pasti banyak sekali tanggung jawabnya.

A :
Saya belum merasa produktif sebagai penulis. Daku mah masih level blogger apalah…apalah…. Pertanyaannya disimpan dulu sampai nanti saya sudah di level itu ya. Sampai di level ini saya masih menulis hanya karena suka menulis saja.


Q 13 : Annisa Rakhmi - Tangsel. 
Saya kadang pingin sekali menuliskan apa yang sedang saya rasakan malah keinginan untuk ngeblog itu besar. Tapi saya tidak tahu harus memulai dari mana, kata pertama apa yang ditulis karena memang tidak terbiasa menulis di diary juga sebelumnya.

A :
Mulai dari tema yang paling kita minati. Mau soal masakan, pakaian, film, dan lainnya.


Q 14 :  Sufina - Tangsel. 
Apa tahapan-tahapan biar bisa menulis yang bagus. Kok ya kalau saya nulis itu ujung-ujungnya cuma jadi cerita/curhat. Bagaimana biar rada meningkat yah.

A :
Banyak baca dulu deh. Baca buku/blog orang yang bagus-bagus. Nanti biasanya keidean buat bikin tulisan setipe. Sulit sekali memulai belajar menulis tanpa modal suka membaca Fin.


Q 15: Nita - Tangsel. 
Saya dulunya cuma penulis di catatan harian sendiri dan jarang sekali menulis di Sosmed/blog. Karena Saya takut kebablasan sehingga privasi saya terbaca oleh banyak orang &  saya minder karena bakunya aturan penulisan. Apakah ada tips untuk penulis pemula nan pemalu seperti saya, mbak Shanty?

A :
Tulis yang nyaman aja dulu Nit. Latihan sedikit demi sedikit dimulai dari yang pendek-pendek. Perbanyak referensi tulisan yang kita suka dan yang nggak kita suka.


Q 16 : Fulanah - Tangsel. 
Sebenarnya tulisan saat kita sedang emosional itu bagus tidak jika di publish. Memang saat-saat emosional apa yg tercurahkan lewat tulisan memang melegakan perasaan kita. Tapi juga saat-saat itu tulisan kadang tak beraturan alurnya. 

A :
Setuju banget! Ya saya juga punya setumpuk tulisan saat emosional. Itu nggak penting buat di share ke publik karena memang nggak penting banget. Tapi tulisan itu penting sebagai terapi stress. Kalau saya biasanya diujung tulisan stress itu ketemu solusi pencerahannya. Tiba-tiba jadi ada ide untuk melihat masalah dengan lebih jernih dan tahu harus melakukan apa. Padahal tulisannya mah kemana-mana dan nggak beraturan.


Q 17 : Tami - Tangsel
1. Kapan waktu-waktu yang mbak Shan alokasikan untuk menulis? Apakah hanya ada di blog atau ada di media lainnya?
2. Bagaimana cara mengatasi buntu ide saat menulis?
3. Saya pernah membaca bahwa menulis untuk menterapi diri sendiri (dalam bentuk keluhan) sebaiknya disimpan sendiri, tidak diluapkan ke orang lain. Apakah itu cukup efektif untuk melepas stres?

A :
1. Bebas kapan saja sempatnya. Tapi saya lebih suka dinihari sebelum subuh. Nulisnya bisa di blog, bisa di kertas aja buat corat-coret aja.

2. Ya nggak usah menulis kalau saya sih. Saya sampai hari ini belum pernah merasa menulis untuk cari uang. Saya masih menulis untuk senang-senang saja. Ada banyak sekali yang perlu ditulis sebenarnya.

3. Betul itu Tam. Kalau saya sih efektif sekali.

Q 18 : Tania - Tangerang Selatan
1. Apa yg mendasari mbak shan, seorang arsitek, menjadi penulis?
2. Selain melalui blog, apa tulisan mbak shan pernah dimuat di media?bila iya, apa tipsnya agar tulisan kita bisa diterbitkan oleh media?
3. Apa tips nya untuk memulai dan menyelesaikan tulisan?
4. Mbak shan punya rencana membuat buku sendiri?

A :
1. Karena saya nggak laku jadi arsitek. Lagian saya nggak bisa menggambar, bisanya menulis.

2. Kebanyakan tulisan saya sih cuma postingan receh di blog, yang dilihat orang paling 500 orang per hari. Pernah sih masuk di portal RockingMama.id , tapi curiga itu karena saya temannya Carolina Ratri aja. Ha…ha…

Cuma yang pasti tulisan di media itu tipe tulisan yang disukai banyak orang. Seleranya harus cocok dengan pangsa pasar media tersebut. Kalau buat saya yang pemula, saya merasa perlu mencari gaya menulis saya dulu di blog pribadi sebelum masuk ke media. Saya belum punya cukup energi untuk mempelajari gaya menulis di suatu media. Kalau di blog pribadi kan lebih bebas. Kita mau nulis jungkir balik juga ya nggak masalah. Rencananya nanti kalau sudah rada pinter, saya akan merambah ke media lain yang lebih luas.

3. Buatnya yang pendek aja dulu biar gampang mulainya dan cepat selesai. Tulisan pendek 300-500 kata sekedar mengungkapkan opini terhadap sesuatu.

4. Punya dong. Cuma karena saya suka banget membaca, selama saya belum menemukan ide buku unik yang perlu saya tulis, ya saya tidak akan menulis buku sendiri dulu. Saya menulis itu untuk kebutuhan sendiri dulu utamanya. Karena tidak ada orang yang menulis tentang itu. Selama masih banyak orang menulis buku keren-keren dan memenuhi kebutuhan bacaan saya, ya saya belum merasa perlu untuk menulis buku sendiri.

Q  19: Nani - Bontang. 
Bagaimana caranya agar tulisan kita bisa enak dibaca sama orang? maksudnya ga njlimet?

A :
Yang pasti tidak banyak typo dan banyak singkatan! Masya Allah, sakit mata saya melihat tulisan yang banyak singkatannya. Bahasanya juga yang sederhana saja dan nggak terlalu panjang. Kita baru bisa buat tulisan enak, kalau kita tahu seperti apa itu tulisan yang enak dibaca. Coba aja dikoleksi gaya tulisan yang kita suka. Insya Allah nanti bisa menular.


Q 20 : Ira Awalanti - Balikpapan
1. Bagaimana cara menulis untuk melepaskan stress traumatik? Apakah diceritakan segala gamblang pengalaman traumatiknya?
2. Bagaimana jika pengalaman traumatik itu juga melibatkan orang dekat? Apakah ada cara untuk menulis agar tidak terlalu gamblang menampakan bahwa dalam tulisan itu tokohnya adalah kita dan orang lain tersebut?

A :
1. Saya belum punya pengalaman seperti itu Ira, jadi saya belum bisa jawab.

2. Mungkin bisa dibuat fiksi dengan bumbu-bumbu cerita lain. Mungkin adegannya bisa lain, cuma rasanya yang direkam dalam tulisan. Seperti kesedihan JK Rowling saat kehilangan ibunya yang diekpresikan dalam tokoh Harry Potter.


Q 21 : Herma  - Tangerang. 
Bagaimana bisa menulis dengan percaya diri sehingga tulisan kita enak dibaca atau pembaca bisa menikmati?

A :
Kita harus menulis tulisan yang benar-benar ingin kita baca. Menulisnya dengan senang hati dan rasa butuh.  Kalau rasa itu sudah ada, kita nggak akan terlalu peduli dengan pendapat orang lain.


Q 22: Ayu Gresik - Jatim. 
Menulis bisa dijadikan ajang untuk merawat kesehatan jiwa kita dengan mengekspresikan segala kondisi perasaan kita lewat tulisan. Lantas, bagaimana caranya agar ketika menulis tentang perasaan kita di medsos namun tidak terlalu menampakkan bahwa si pelaku dlm tulisan itu diri sendiri? Adakah tipsnya.

A :
Jadikan fiksi dengan tokoh orang lain saja. Bisa jadi itu membantu kita untuk melihat dari luar diri kita. Sebenarnya, tidak perlu juga kok perasaan kita dipamerkan melalui media sosial. Khawatirnya itu malah menjadi bumerang ke kita sendiri. Kalau hati lagi galau sebaiknya diselesaikan dulu di dalam. Nanti kalau sudah tenang, baru kisahnya mungkin bisa diangkat ke publik dengan lebih jernih.


Q 22: Mesa, Jombang
Apakah tulisan yang bisa melepaskan stress adalah spesifik pada tulisan yang mengekspresikan emosi, yang menceritakan pengalaman traumatiknya?

Jika kita memiliki waktu menulis yang singkat dalam keseharian, lalu kita menggunakannya untuk menulis hal-hal yang kita sukai, semisal portofolio anak. Dengan menulis tumbuh kembang anak, mata kita jadi berbinar dan hati pun bahagia. Apakah ini bisa sebagai melepas stress juga? Atau tetap perlu menulis mengenai luapan emosi kita?

Seringkali kita merasa ingin menulis banyak hal, tapi rasa-rasanya waktu yang dimiliki terbatas. Share dong teh, gimana strategi prioritas teh Shanty dalam menentukan dan mengeksekusi calon tulisan.…

A :
Kalau menurut saya stress itu kan macam-macam tingkatannya. Dari level stress dompet tipis di akhir bulan sampai pengalaman traumatik yang memerlukan terapi profesional. Kalau pengalaman saya, menulis itu membantu mengeluarkan emosi dan menjadi proses menjernihkan pikiran. Setiap orang bisa saja berbeda-beda cara membuatnya mengatasi tekanan dan berbahagia menghadapi hidupnya.
Kalau strategi menentukan prioritas tulisan, cukup pake feeling aja Mes.


Q 22:  Julie ( Ling Ling ) Kudus. 
Pada saat bikin buku, menulis sebuah buku itu alurnya seperti apa prosesnya. Datang ke mana dan bagaimana. Kemudian apakah pada saat tulisan akan di cetak menjadi sebuah buku, dapat langsung dijadikan buku, atau melalui proses edit terlebih dahulu . Kemudian untuk menerbitkan buku itu ada ijinnya tidak?

A :
Ini beda-beda pengalamannya tiap nulis buku Julie. Beda jenis buku, beda penerbit, beda tim. Kalau mau tau prosesnya bisa ikutan gabung di #ODOPfor99days. Kami akan mengundang teman-teman untuk mengikuti proses bikin buku bareng. Rencananya dalam 1 tahun kami akan membuat 3 buku.


Q 23:  Ummu Ukasyah, Makasar. 
Sebagai IRT dengan 3 anak yang masih balita, saya sering stress. Kadang mau nulis tidak punya waktu yang tepat, siang berkutat dengan anak dengan kerja rumah malam sudah kelelahan. Bagaimana mengatur ritme menulis agar betul-betul pas dengan kondisi saya?

A:
Nggak usah terlalu dipaksakan. Kalau memang belum sempat ya ditunda dulu aja. Nanti juga akan tiba waktunya bisa.

Saya dulu waktu anak kecil dan bayi hanya sempat nulis di kertas asal-asalan. Trus polpennya ditarik anak-anak. Bukunya di coret dan di robek anak-anak. Ya udah diterima saja.

Baru saat anak saya paling kecil umur 4 tahun, saya dapat kesempatan belajar menulis ke Jakarta. Baru deh di situ bisa mulai ada waktu me time sedikit buat benar-benar menulis.

Kulwap sekarang ada oleh-olehnya loh. Terima kasih IIP Tangsel.


Kesimpulan

1. Perlu dibedakan antara menulis untuk melampiaskan emosi dengan menulis untuk publik. Menulis untuk melampiaskan emosi itu adalah menulis lepas tanpa perlu memperhatikan tata kalimat, tanda baca, alur, dan aturan dalam menulis. Keluarkan saja semuanya sepuasnya. Mungkin sekitar 10-15 menit. Pilih waktu yang paling nyaman buat teman-teman.

2. Sebelum bisa menulis panjang untuk postingan di blog, bisa berlatih mengeluarkan pikiran dalam tulisan yang pendek-pendek. Seperti chatting-an di WhatsApp atau status media sosial. Gunakan kesempatan ini untuk belajar menulis tanpa singkatan, salah tulis, menambah perbendaharaan pilihan kata, dan menyampaikan pikiran secara utuh.

3. Banyaklah membaca tulisan yang bagus dan kita sukai.

4. Menulis untuk bisa dinikmati umum itu perlu hati yang tenang dan bahagia. Jangan memaksakan diri menulis untuk dibaca banyak orang kalau memang lagi tertekan. Karena biasanya hasilnya tidak akan bagus juga. Menulis lah karena merasa itu sebagai kebutuhan yang menyenangkan dan kita perlukan.

5. Mulailah menulis hal-hal kecil yang kita sukai. Misalnya kalau kita suka drama korea, tulislah beberapa kalimat opini kita tentang drama korea tersebut. Kalau kita suka makan, kita bisa tulis perasaan kita saat makan makanan tertentu. Mulailah dari hal-hal yang kita sukai.

Selamat menulis dan bersenang-senang….

You May Also Like

0 comments